Sampai Jumpa Minggu Depan! - Part 4 (END)


Cerbung Sampai Jumpa Minggu Depan!

Judul : Sampai Jumpa Minggu Depan!
Genre : Cinta, Sedih, Motivasi
Penulis : Muhammad Mu’az


PART 4 (END)

            Setelah pertemuan minggu lalu dengan Nisa di rumah sakit, entah mengapa aku terus merasa sedih. Semangatku seakan menyusut lagi, tetapi aku sudah berjanji kepada Nisa. Aku akan tetap semangat. Tidak boleh kembali putus asa seperti dulu lagi, seperti sebelum aku bertemu dengan Nisa. Tetapi Nisa telah memperkenalkan kepadaku apa itu rasa syukur, yang membuat hidupku terasa lebih semangat.

            Karena itulah, sekarang aku sudah mulai selalu kuliah tepat waktu. Semua jadwal kuliah ku ikuti dengan baik. Dan tak lupa juga aku selalu hadir dalam pengajian yang sudah ku ikuti sejak minggu lalu. Dan juga aku selalu ingat untuk melaksanakan sholat. Setelah sholat, aku selalu berdo’a untuk kesembuhan Nisa. Aku berdoa agar ia bisa segera sembuh, dan kami dapat bertemu kembali.

            Jujur saja, yang tidak menyenangkan dari rasa cinta adalah rasa rindu. Karena rasa rindu dengan mudahnya bisa membuat hati tak berdaya. Membuat pikiran tidak bisa fokus, karena selalu teringat oleh seseorang yang dirindu.
Tetapi aku mencoba sekuat tenaga untuk melawan perasaan ini. Karena aku yakin, minggu depan aku pasti akan bertemu lagi dengan Nisa.

            Karena ketika ia mengatakan “sampai jumpa minggu depan!” itu artinya kami pasti akan bertemu kembali.
Aku hanya ingin Nisa segera sehat kembali, dan aku bisa melihat senyumannya lagi. Hal yang membuat ku sangat bersemangat.

*****

            Hari-hari pun semakin berlalu, tak terasa hari minggu sudah di depan mata.
Kini aku bukanlah Dana yang dulu lagi, yang selalu putus asa dan ingin bunuh diri. Aku sudah berubah karena Nisa yang menumbuhkan semangat dan juga cinta di hatiku.

            Semakin lama aku pun semakin sadar bahwa aku sudah mencintainya.
Dialah cinta pertamaku, dan wanita yang bisa mengubah diriku. Menjadi lelaki yang lebih baik dari yang dulu pernah kulalui.
Dia seperti cahaya yang menerangi hatiku. Menyuburkan dan juga memberi kehidupan baru. Dia ibarat air yang memadamkan api dalam pikiranku. Sehingga aku bisa kembali berpikir jernih.

            Aku sudah memutuskan, bahwa minggu besok adalah waktu yang sangat tepat untuk mengungkapkan perasaan ini padanya.
Ya, aku tau bahwa kami tidak mungkin berpacaran. Karena ia juga seorang muslimah yang menjaga diri. Tetapi setidaknya aku bisa lega, dan hatiku tidak lagi merasakan perasaan yang aneh sepanjang hari.

            Aku ingin mengatakannya secara langsung, tetapi itu pasti sangat berat bagiku.
Tidak mungkin aku langsung mengatakan, “Hai Nisa, aku cinta padamu.” Atau “Nisa, aku cinta padamu. Kamu cinta gak samaku?”
Ya gak mungkin lah, masa iya aku langsung ngomong kayak gitu. Kesannya jadi membosankan banget, dan yang pasti dia bakal gak suka. Mungkin bakal meninggalkanku di tempat dan berlari seperti adegan dalam sinetron.

            Lebih baik aku pakai cara kedua.
Cara ini cukup jadul, tetapi dari dulu hingga sekarang cara ini selalu ampuh, dan masih ada orang yang menggunakannya. Yaitu dengan menuliskan surat cinta.
Surat yang isinya semua perasaanku padanya. Tentang cinta yang selama ini telah ia tanamkan dalam hatiku.

            Tetapi sebaiknya aku tidak menuliskan kata-kata yang terlalu berlebihan. Aku cukup menuliskan dengan kejujuran hati.
Agar tidak terlihat kesan yang terlalu buruk, karena Nisa juga wanita baik-baik. Dan sudah pasti aku tidak memintanya untuk berpacaran.

            Mungkin suatu saat nanti aku akan langsung melamarnya.
Semoga saja.

            Akhirnya aku menuliskan sebuah surat yang berisikan perasaanku padanya. Sekaligus tentang rasa terima kasih, karena ia telah mengubah hidupku.
Aku yang dulunya pecundang yang tak punya rasa syukur, menjadi seorang lelaki yang ingin mencoba untuk terus menjadi lebih baik lagi.

*****

            Akhirnya, setelah penantian yang terasa seperti bertahun-tahun lamanya, hari minggu telah datang kembali.
Hari yang dulu kuanggap biasa saja, sekarang malah menjadi hari yang sangat kutunggu-tunggu dan hari paling berkesan dalam hidupku.

            Aku sudah mempersiapkan sebuah surat dalam amplop, yang semalam kutulis dengan perasaan terdalam.
Tetapi yang membuatku bingung adalah, Nisa mengirimkan sebuah SMS padaku yang berisi bahwa ia mengatakan untuk bertemu di sebuah kuburan.
            Aku benar-benar bingung, kenapa Nisa mengajak untuk bertemu di kuburan?
Atau mungkin hari ini dia ingin mengajarkan padaku tentang rasa syukur karena masih diberi kehidupan?

            Ya, mungkin saja.

            Akhirnya aku langsung bergegas menggunakan motorku untuk pergi ke area kuburan. Mungkin saja Nisa sudah menunggu disana.

            Setelah sampai di area kuburan, aku melihat-lihat sebentar. Dan dari kejauhan, aku berhasil menemukan Nisa yang sedang berdiri di samping sebuah kuburan.
Aku mendatangi Nisa, dan kulihat kuburan yang ada di depannya masih terlihat baru. Mungkin orang ini baru saja meninggal beberapa hari yang lalu. Tetapi aku tidak terlalu memperhatikan nama di batu nisannya.

            “Assalamu’alaikum.” Kataku. Kali ini aku sudah tidak melupakan salam.
“Wa’alaikum salam.” Jawab Nisa.
“Apa kabar Nisa. Kamu udah sehat?” aku bertanya padanya.
Nisa hanya terdiam. Lalu kuperhatikan matanya berkaca-kaca, ia seperti orang yang habis menangis dan terus-terusan menangis.
“Coba baca nama yang ada di nisan itu.” Jawab Nisa dengan terbata-bata. Seperti berat sekali untuk mengatakannya.
Akhirnya kucoba untuk melihat nama di batu nisan kuburan baru ini. Dan aku benar-benar sangat terkejut!!

            “Bagaimana mungkin!!?” tanyaku.
Nama yang tertulis di batu nisan ini adalah nama Nisa! Tetapi bagaimana mungkin!? Bukannya dia sekarang ada di sampingku!?
Setelah kuperhatikan lagi, wanita ini memang sangat mirip sekali dengan Nisa. Tetapi ada yang membuatnya terasa berbeda. Tetapi aku benar-benar tanda, bahwa mata wanita ini adalah mata Nisa, mata indah yang selama ini kuperhatikan.

            “Tolong jelaskan padaku! Apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana mungkin nama Nisa ada di batu nisan ini!?” tanyaku dengan panik dan sangat penasaran.
“Itu adalah kuburan Nisa. Orang yang beberapa minggu ini kamu jumpai Dana.” Aku benar-benar kaget mendengar jawabannya. Dan, bagaimana dia bisa tahu namaku kalau dia bukan Nisa?
“Lalu, kau siapa?!” lanjut aku bertanya.
“Aku adalah saudara kembarnya.” Jawab wanita tersebut.

            Badanku langsung lemas.
Aku terduduk seketika di tanah. Pikiranku kacau, dan hatiku hancur sekali.
Berkali-kali aku melihat wajah wanita ini, memang sangat mirip dengan Nisa, terutama matanya. Karena aku benar-benar mengenali mata Nisa.
Aku menangis.
Air mataku benar-benar tak dapat kutahan lagi. Bagaimana mungkin semua ini terjadi!?

            “Namaku Alya, dan aku adalah saudara kembar Nisa.” Jawab wanita ini, yang ternyata bernama Alya.
Aku terdiam. Aku terbatu. Aku hanya bisa menangis di depan kuburan Nisa. Pikiranku melayang entah kemana. Mungkin mengingat kenangan saat aku dan Nisa pertama kali bertemu, di atas jembatan yang panjang.

            “Aku akan bercerita sedikit, agar kamu tidak bingung lagi.” Sambung Alya.

            Dari sinilah semuanya terungkap.
Alya bercerita tentang dia dan Nisa yang lahir sebagai bayi kembar. Tetapi Alya lahir dalam keadaan buta, sedangkan Nisa lahir dengan keadaan normal.
Itulah alasan kenapa Alya sangat jarang keluar rumah, dan aku sama sekali tidak pernah bertemu dengannya.
            Ayah mereka telah meninggal sejak mereka masih kecil. Lalu setelah itu, ibu mereka juga ikut terkena penyakit, sehingga Nisa lah yang menjadi pemegang tanggung jawab dalam keluarga mereka.
Nisa yang mengerjakan berbagai pekerjaan rumah, dan Nisa juga membuka jasa menjahit, lalu ia menjual kue yang ia buat sendiri. Bukan hanya itu, Nisa juga membantu temannya untuk menjual baju, sehingga ia dapat mengumpulkan sedikit-demi-sedikit uang yang akhirnya ia tabung sebagian.

            Karena kesibukan bekerja, Nisa tidak dapat melanjutkan kuliah. Ia juga selalu menabung uang hasil pekerjaannya.
Walaupun Nisa sibuk bekerja, tetapi ia tidak lupa untuk selalu melaksanakan pekerjaan rumah, dan juga merawat Alya yang buta, juga merawat ibunya yang sedang sakit.
            Nisa mengatakan bahwa tabungan yang ia miliki nantinya akan digunakan untuk biaya perobatan ibu, dan juga biaya operasi mata Alya.

            Tetapi beberapa waktu berikutnya, ibu mereka pun meninggal.
Alya terlihat sangat sedih, dan tentu saja Nisa merasa sangat berduka. Ia sudah bekerja keras selama ini untuk kesembuhan ibunya.
Tetapi apa daya, Tuhan berkehendak lain. Mungkin ini cobaan dalam hidupnya.
            Walaupun ibu mereka sudah meninggal, Nisa tidak kalah. Iya tetap mencoba untuk semangat menjalani hidup, dan juga bekerja keras.

            Nisa selalu bekerja keras dan menjaga Alya.

            Tetapi penderitaanya tidak berlalu sampai disitu. Karena ternyata Nisa divonis terkena penyakit dalam yang sangat parah, hingga kini sudah stadium 4. Dan Nisa juga divonis hidupnya tinggal beberapa minggu lagi, karena penyakitnya yang sudah terlanjur memasuki tingkat tertinggi dan berjalan dengan cepat.

            Tetapi masalah tersebut masih tidak dapat mengalahkan dirinya.
Mungkin dia adalah wanita terkuat yang pernah ada. Nisa tetap bekerja giat di akhir-akhir hidupnya. Ia mengatakan uang tabungan ini akan digunakan untuk biaya operasi saudara kembarnya, dan juga untuk biaya pendidikan saudara kembaranya, Alya.

            Karena sifat Nisa yang kuat dan juga selalu bersemangat, tidak ada seorangpun yang tahu bahwa ia sebenarnya sedang sakit parah. Hanya menunggu ajal menjemputnya.

            “Kak Nisa mendonorkan matanya untukku. Dan dia juga sudah bercerita tentang dirimu, dari minggu pertama kalian bertemu. Ia mengatakan bahwa ia bertemu dengan seorang lelaki yang sedang berputus asa, dan Kak Nisa ingin menolong lelaki tersebut. Dan ternyata lelaki beruntung itu adalah dirimu.” Kata Alya.
Setelah mengatakan itu, aku tersadar dan langsung melihat mata Alya. Mata itu adalah mata Nisa. Mata yang selama ini kuperhatikan saat ia tersenyum. Mata penuh semangat dan kerja keras, yang selama ini telah membuatku banyak berubah.

            Aku masih saja menangis terseduh-seduh.
Aku masih belum bisa menerima kenyataan yang sangat menyedihkan ini. Bagaimana mungkin semua ini terjadi pada sosok wanita yang sangat baik seperti Nisa?
Kenapa orang baik selalu meninggal duluan!??

            “Sudahlah. Aku mengerti perasaanmu, karena perasaanku juga sangat sakit ketika mengetahui kakak sudah tiada. Tetapi bukan tangisan seperti ini yang ia inginkan di depan kuburannya.” Kata Alya.
Lalu Alya kembali berkata, “Dan sebelum meninggal, Kak Nisa juga mengatakan padaku untuk selalu memperhatikan mu. Iya mengatakan bahwa aku harus selalu melihatmu hidup dengan semangat, karena kau telah berjanji padanya. Melalui diriku, Kak Nisa akan menagih janji tersebut.”

            Aku tersentak dan teringat, bahwa kami memang pernah berjanji. Aku berjanji untuk terus bersemangat, dan Nisa berjanji akan selalu melihat diriku.
Aku merasa semakin sedih, hatiku hancur berkali-kali. Tetapi aku harus tetap menepati janji tersebut.
            Akhirnya kupaksa telapak tanganku untuk menghapus air mataku yang masih mengalir. Dan kucoba untuk bertahan.

            Aku mengambil surat yang tadinya ingin kuberikan pada Nisa, dan kuletakkan di samping batu nisannya.
“Semua perasaanku ada di dalam surat ini. Dan akan abadi. Karena kaulah cinta pertamaku.”
Semua ini hal yang paling sulit kupercaya. Tetapi inilah akhirnya.
Tetapi aku tahu, Nisa pasti meninggal dengan perasaan yang tenang. Dan aku harus menepati janjiku.

            Aku akhirnya sudah mulai bisa menahan tangisanku, dan berdoa untuk Nisa.

            Setelah itu aku berdiri, lalu Alya berkata.
“Sampai jumpa minggu depan!”

END -


*****************

Penutup

Saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman semua yang mau membaca kisah ini dari awal hingga akhir. Juga mohon maaf jika ada kekurangan atau kesalahan dalam penulisan, mohon kitanya teman komen saja dibawah apa yang salah atau yang kurang, agar segera saya perbaiki. Dan sobat juga bisa memberikan penilaian untuk cerbung ini di komen bawah.

Sampai jumpa di cerita selanjutnya!

Silahkan berlangganan agar dapat update tentang blog ini dari email anda:

Jangan lupa lakukan Konfirmasi melalui link Aktivasi yang kami kirimkan ke email Anda!

0 Response to "Sampai Jumpa Minggu Depan! - Part 4 (END)"

Post a Comment

Berkomentarlah sesuai artikel, agar komentar kami terbitkan. Dan komentar yang mengandung url atau unsur promosi akan di hapus.
Terima kasih ^_^