Sampai Jumpa Minggu Depan! - Part 3


Cerbung Sampai Jumpa Minggu Depan!

Judul : Sampai Jumpa Minggu Depan!
Genre : Cinta, Sedih, Motivasi
Penulis : Muhammad Mu’az


PART 3

            1 minggu lagi telah berlalu, kini aku sudah kembali menunggu di taman. Sendirian duduk di bangku taman, menunggu kedatangan Nisa seperti minggu kemarin. Kami pergi ke sebuah sekolah luar biasa, yang membuat pandanganku tentang hidup ini semakin berubah.
Aku tidak tahu apakah Nisa akan datang, karena ia juga tidak mengatakan akan datang. Tetapi minggu kemarin dia juga tidak bilang akan datang, tetapi ia datang walaupun aku harus menunggu lama.

            Aku datang tepat jam 10, dan kulihat belum ada orang yang duduk di sini.
Jadi kuputuskan untuk menunggu kedatangan Nisa. Sambil mendengarkan musik The Chainsmoker yang berjudul Bloodstream, aku menunggu.
            Masih teringat di pikiranku, mata Nisa yang begitu indah. Senyumannya yang membuat hatiku seperti terbakar, tetapi tidak sakit atau perih, melainkan bahagia tetapi juga sedikit malu bercampur bingung.

            Aku mulai berpikir, apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?
Jujur saja, aku belum pernah benar-benar jatuh cinta sebelumnya. Bahkan, aku belum pernah pacaran sama sekali.
Pandanganku tentang wanita lumayan buruk. Mereka hanya membuat lelaki patah hati. Mereka yang membuat masalah, dan mereka juga yang menangis.
Ketika dicintai dengan tulus, mereka malah bermain di belakang dengan lelaki lain.

            Iya aku tahu, memang tidak semua wanita seperti ini. Tapi pada zaman ini, semakin banyak tipe wanita yang tidak menghargai tubuhnya sendiri.

Dan tidak terasa aku sudah menunggu Nisa di taman ini hingga 2 jam.
Kupingku pun terasa sakit, karena 2 jam aku mendengarkan musik menggunakan headset. Dan aku lupa, entah lagu keberapa ini yang sudah kudengar.
Aku sedikit kecewa, tetapi juga bingung. Kenapa Nisa tidak datang? Apakah ia tidak akan pernah datang lagi? Tetapi kenapa ia selalu mengatakan “sampai jumpa minggu depan!” saat kami berpisah?

            Akhirnya aku pun memutuskan untuk pulang kerumah.

*****

            Sesampai di rumah, aku langsung membaringkan tubuhku di atas tempat tidur.
Aku terus saja membayangkan wajah Nisa, dan bertanya-tanya kenapa ia tadi tidak datang?
Padahal aku ingin sekali menanyakan identitasnya, dan apa alasannya mau mengajakku pergi selama ini.

            Akhirnya aku mencoba memberanikan diri untuk menelponnya, karena minggu lalu aku sudah berhasil mendapatkan nomor telponnya.
Tetapi kucoba hingga berkali-kali, tetap saja tidak di angkat. Aku semakin khawatir dan benar-benar bingung.
            Kucoba untuk mengirim SMS, tetapi hingga berjam-jam berlalu, tidak ada balasan juga dari Nisa.

            Entah kenapa saat seperti ini, rasanya aku seperti kehilangan semangat. Tetapi kata-kata Nisa selalu terbayang di pikiranku.
Aku ingat kata-katanya yang memotivasiku, agar tetap semangat, dan menjalani hidup dengan rasa syukur.
            Karena hanya rasa syukurlah yang dapat membuat hidup menjadi lebih mudah. Menjadi lebih indah, dan seberat apapun masalah, pasti bisa dilewati dengan mudah.

            Akhirnya hari-hari berikutnya kujalani dengan semangat.
Aku selalu hadir saat kuliah, dan juga pulang tepat waktu. Di sisa-sisa waktu, aku sempatkan untuk menulis.
Awalnya aku hanya iseng, karena aku tidak memiliki hobi yang jelas. Tetapi semenjak bertemu dengan Nisa, entah mengapa rasanya menulis menjadi hal yang paling menyenangkan dan mudah dilakukan. Dan aku juga sudah mulai ikut pengajian di masjid yang kemarin kami datangi.

            Dan setelah beberapa hari berlalu, akhirnya tiba juga hari sabtu.
Yang istimewa dari hari ini adalah, Nisa akhirnya membalas SMS ku. Aku benar-benar senang dan juga lega!
Tetapi isi dari SMS nya cukup aneh, karena Nisa mengatakan untuk bertemu minggu besok di sebuah rumah sakit.
            Nisa memberikan alamat rumah sakitnya lengkap dengan nomor ruangan. Aku berpikir, mungkinkah dia sedang sakit?

*****

            Hari minggu telah tiba, hari yang membuat jantungku berdegup kencang, dan membuat pikiran serasa melayang.
Tetapi aku juga sangat bingung, karena hari ini Nisa tidak mengajak untuk bertemu di taman seperti minggu lalu. Ia malah mengatakan untuk bertemu di sebuah rumah sakit umum di kotaku.

            Akhirnya aku datang di rumah sakit tersebut, dan langsung mencari kamar nomor 8 yang telah diberitahu Nisa melalui SMS.

            Setelah memasuki ruangan, betapa kagetnya aku melihat Nisa terbaring lemah. Dengan tangan yang ditusuk jarum impus, dan juga beberapa peralatan medis lain yang tidak aku ketahui alat apa itu.
Nisa langsung melihatku ketika aku masuk, dan aku pun mulai mendekati Nisa yang terbaring lemah dan berdiri di sampingnya.

            “Assalamu’alaikum.” Kata Nisa tersenyum.
“Wa’alaikum salam.” Jawabku.
“Kamu kebiasaan ya, kalau ketemu pasti lupa ngucapin salam.” Ledek Nisa.
“Hehehe, iya maaf. Aku tadi kaget ngelihat kamu begini.” Jawabku.
“Kaget gimana? Ya namanya juga manusia, pasti aku juga kan bisa sakit. Kecuali aku bidadari. Hehehehe.” Jawab Nisa yang bercanda.
“Bagiku kamu seperti bidadari kok.” Jawabku pelan. Pipiku mulai memerah, dan pandanganku menjadi kesana-kemari.
“Eh, kamu bilang apa?” tanya Nisa
“Eng.. enggak kok.” Jawabku malu.

            Nisa menyuruhku duduk di bangku yang ada di sebelah tempat tidur. Tetapi posisi kami tidak saling pandang, dan tidak terlalu dekat.

            “Aku minta maaf ya Dana. Minggu lalu aku gak bisa datang menemuimu.” Nisa membuka percakapan.
“Iya gapapa kok.” Jawabku singkat.
“Terus kamu gimana? Kuliah kamu gimana? Kamu juga ikut pengajian kan?” tanya Nisa bertubi-tubi.
“Eh, iyaiya. Minggu ini aku full kuliah. Dan kemarin juga aku ikut pengajian.” Jawabku.
“Nah, gitu dong. Harus semangat! Jangan cuma minggu ini, minggu seterusnya juga ya!” kata Nisa.
“Iya Nisaa.” Jawabku dengan sedikit tersenyum.
“Kamu, sakit apa?” tanyaku.
“Penyakit lama, tapi aku baik-baik aja kok. Lihat dong, aku senyum nih.” Jawab Nisa yang kulihat sekilas tersenyum manis, sangat manis.
“Serius kamu baik-baik aja?” tanyaku.
“Iya Dana, aku baik-baik aja dan aku ikhlas menerima penyakit ini.” Jawab Nisa.

            Aku dan Nisa terdiam sejenak, seketika keadaan menjadi senyap. Lalu aku kembali bertanya, hal yang selama ini ingin aku tanyakan.

            “Aku ingin bertanya. Kenapa kamu mau kenal denganku? Dan kenapa kamu kemarin menegurku ketika di jembatan. Padahal kan kita sebelumnya belum kenal?”
Nisa diam sejenak. Melihat ke arah jendela, mungkin dia sedang melamunkan sesuatu. Tetapi ia langsung melihatku dan menjawab.
“Mungkin bukan alasan, tetapi takdir yang membuat kita bisa bertemu dan bisa kenal, bahkan sampai sekarang.” Jawab Nisa.
Aku terdiam sejenak setelah mendengar jawaban Nisa, lalu ia kembali berkata. “Jika suatu saat nanti aku sudah tiada di dunia ini, apakah kamu bisa berjanji satu hal?”

            Aku kaget dan juga entah kenapa hatiku menjadi resah, ketika mendengar pertanyaan Nisa ini.
“Apa maksud mu?” tanyaku heran.
“Berjanjilah padaku, walaupun aku sudah tiada, kamu tidak boleh kembali menjadi orang yang mudah putus asa. Kamu harus tetap semangat, dan menjalani kehidupan ini dengan penuh syukur.”
            Aku kembali terdiam. Rasanya kata-kata ini menjadi pukulan untuk hatiku. Entah kenapa perasaanku jadi tidak enak. Apakah Nisa akan benar-benar pergi?
“Berjanjilah Dana?” kali ini Nisa bertanya lagi.
“Iya baik, aku berjanji. Tapi, kenapa mendadak kamu bicara seperti ini?” tanyaku penasaran.
“Aku tidak bisa menjawabnya, aku merasa hanya harus mengatakan ini. Tetapi aku juga berjanji, aku akan selalu ada untukmu. Aku akan selalu melihatmu, dan aku mau melihatmu selalu semangat. Jangan pernah menyerah pada dunia ini, sekejam apapun, aku ingin selalu melihatmu bersemangat dan tersenyum.”

Kali ini kulihat air mata Nisa mulai jatuh.
Sungguh sakit rasanya melihat ia menangis. Entah mengapa, mungkin inilah bagian dari rasa cinta. Tidak ingin orang yang dicintainya sedih.

            “Nisa, aku berjanji. Karena kamu juga berjanji akan selalu melihatku, jadi aku akan selalu bersemangat! Lihat saja nanti, akan kubuktikan padamu!” kataku semangat.
Nisa mulai tersenyum. Kali ini senyumannya lebih menenangkan, dan juga menyimpan segudang rahasia yang mungkin tidak kuketahui.

            “Baiklah Dana, mungkin sudah saatnya kamu pulang. Kita telah mengobrol cukup lama. Nanti kamu ketularan penyakit ku loh kalau lama-lama disini. Hehehehe.” Kata Nisa sambil tertawa kecil.
“Gak masalah. Bahkan aku rela menanggung sakitmu sendirian, asal kamu bisa sehat dan ceria lagi seperti kemarin.” Tiba-tiba saja aku mengatakan hal tersebut.
Pipi Nisa memerah, aku pun jadi ikut malu.
            Aku langsung berdiri dan berpamitan dengan Nisa. Tak lupa juga aku meninggalkan buah-buahan yang kubawa tadi di meja pasien.

            Setelah mengucapkan salam dan melangkah keluar, Nisa memanggil.
“Danaa!”
“Iya Nisa?” jawabku.
“Sampai jumpa minggu depan!” kata Nisa bersemangat.

            Aku sedikit lega, karena kembali lagi mendengar perkataan itu, yang artinya kami akan bertemu lagi, dan berarti Nisa baik-baik saja.
“Baiklah, sampai jumpa minggu depan Nisa!”

Bersambung...


Baca cerita selanjutnya : Sampai Jumpa Minggu Depan! - Part 4 (END)

Silahkan berlangganan agar dapat update tentang blog ini dari email anda:

Jangan lupa lakukan Konfirmasi melalui link Aktivasi yang kami kirimkan ke email Anda!

0 Response to "Sampai Jumpa Minggu Depan! - Part 3"

Post a Comment

Berkomentarlah sesuai artikel, agar komentar kami terbitkan. Dan komentar yang mengandung url atau unsur promosi akan di hapus.
Terima kasih ^_^