Sampai Jumpa Minggu Depan! - Part 2


Cerbung Sampai Jumpa Minggu Depan!

Judul : Sampai Jumpa Minggu Depan!
Genre : Cinta, Sedih, Motivasi
Penulis : Muhammad Mu’az


PART 2

            Malam ini aku sama sekali tidak bisa tidur. Aku masih saja terus kepikiran soal gadis cantik dan sopan yang menemuiku minggu lalu, di sebuah jembatan. Aku masih menyangka-nyangka, kenapa ia mau menegurku, padahal dia sama sekali tidak mengenalku.
Apakah sebenarnya dia pernah bertemu denganku dulu?
Atau mungkin aku yang tidak pernah melihat dia sama sekali?

            Ah entahlah. Dia meninggalkan banyak misteri. Apalagi dia mengatakan “Sampai jumpa minggu depan!”
Apa maksudnya kata-kata itu? Apakah ia ingin bertemu denganku lagi?
Tapi kenapa hanya mengatakan kata itu, dan tidak memberi tahuku harus bertemu di mana? Dan mau kemana?

            Malam ini adalah malam minggu, dan besok seharusnya menjadi minggu pertemuan kami yang kedua.
Aku hanya bisa datang kembali ke taman tempat kami bertemu minggu lalu, karena mungkin nanti wanita yang bernama Nisa ini akan datang.
            Entahlah, siapa yang tahu.

*****

            Minggu ini aku bangun pagi lagi, karena ingat ada janji dengan Nisa.

            Aku segera mandi, berpakaian, dan sarapan. Aku bilang ke ibuku kalau aku akan menemui seorang teman. Dan tentu saja ibuku setuju, karena di rumah aku juga tidak punya teman, dan selalu saja sendirian.
            Jadi lebih baik aku keluar, setidaknya bisa meringankan beban pikiran, dan tidak menambah-nambah stress lagi.

            Akhirnya aku sampai ke taman tempat kami bertemu minggu lalu tepat pukul 10 pagi. Tetapi aku tidak melihat Nisa. “Apakah ia tidak datang?” gumamku dalam hati.
Aku memutuskan untuk menunggu, aku duduk di bangku taman tempat Nisa menungguku datang minggu lalu.
            Tak kusangka, akulah yang menunggunya kali ini. Aku tidak tau apakah ia akan benar-benar datang, atau kemarin akan menjadi pertemuan terakhir kami?

            “Assalamu’alaikum.”
Sebuah salam menyadarkan ku dari lamunan. Dan kali ini aku sudah tanda dengan suaranya. Ini pasti Nisa.
            Benar saja, ia sudah datang. Benar-benar cantik sekali. Ia menggunakan pakaian serba tertutup seperti yang lalu, kali ini dengan hijab warna pink.
Sungguh tenang hati melihat wanita seperti ini, tapi aku sadar jika terlalu lama menatapnya mungkin ia akan risih.

            “Wa’alaikum salam.”
“Maaf, kamu udah nunggu lama ya Dana?” kata Nisa dengan nada yang sedikit khawatir.
“Tenang aja, aku baru sampe kok.” Kataku kepada Nisa. Padahal baru kali ini aku menunggu seseorang, dan rasanya waktu cepat sekali ketika ia datang. Padahal aku sudah cukup lama melamun menunggunya di sini.
“Yaudah, ayo kita pergi.” Kata Nisa semangat.
“Tapi, minggu ini kita mau pergi kemana?” tanyaku penasaran.
“Hari ini kita akan pergi ke 2 tempat. Tempat yang pertama mungkin hampir mirip dengan tempat yang kita datangi minggu lalu, tetapi cukup berbeda. Lalu tempat kedua adalah tempat perpisahan kita minggu ini.” Jawab Nisa.
“Baiklah, sesuai katamu.” Jawabku. Lalu aku kembali bertanya, “Lalu, apakah kali ini kita akan berjalan kaki juga, seperti minggu kemarin?”
“Iya, sebaiknya kita berjalan kaki saja. Selain lebih aman, tujuan kita kali ini juga tidak terlalu jauh dari taman ini. Lagian Allah menciptakan kaki untuk dimanfaatkan dengan baik kan?” Nisa kembali bertanya.
“Iya iya.” Jawabku singkat.
“Baiklah, mari kita berangkat.”

            Kami kembali berjalan dengan jarak yang cukup berjauhan seperti minggu lalu. Tetapi entah mengapa, berjalan dengan Nisa jarak menjadi terasa sangat dekat. Dan kata lelah tidak pernah terpikirkan sama sekali.
           
            Setelah cukup lama kami berjalan, akhirnya kami berhenti di sebuah sekolah.

            Tidak, ini bukan sekolah biasa. Ini adalah Sekolah Luar Biasa.
Yap, aku tidak berbohong.
Ini adalah sekolah untuk anak-anak yang tidak bisa melihat, atau bahasa kasarnya buta. Di sini mereka akan di perlakukan khusus untuk tetap bisa belajar. Walaupun dengan keterbatasan yang luar biasa, tetapi semangat anak-anak ini juga luar biasa.

            Nisa langsung masuk ke dalam ruang belajar mereka. Aku yang baru pertama kali datang, hanya mengikutinya saja.

            “Assalamu’alaikum.” Kata Nisa.
“Wa’alaikum salam. Horeee! Kak Nisa datang lagiiii!!” teriak gembira seluruh anak-anak yang ada di dalam ruangan.
“Ya pasti dong kakak datang lagi. Kan kakak udah janji, bakal terus ketemu sama kalian.” Kata Nisa dengan nada ceria.
“Terima kasih ya nak Nisa, sudah mau repot-repot datang kemari.” Kata guru yang sedang mengajar mereka.
“Iya bu. Saya juga senang kok, melihat mereka gembira seperti ini.”
“Oh iya, kali ini saya bawa teman bu. Ini namanya Dana, dia juga ingin ikut melihat anak-anak yang semangat ini.” Kata Nisa menujukku sambil tersenyum.

            Dan akhirnya aku di perkenalkan dengan ibu guru dan semua murid di ruangan ini. Aku memperkenalkan namaku kepada anak-anak, dan mereka sangat ceria menyambutku. Aku yang tadinya masih bingung, sekarang malah ikut tersenyum.
            Lalu setelah itu Nisa memberikan amplop kepada ibu guru.
“Ini bu, ada sedikit rezeki. Semoga cukup untuk membeli buku-buku baru untuk mereka semua.”
“Nak Nisa, makasih banyak ya. Selama ini sudah sangat sering membantu sekolah ini. Semoga amal kebaikan nak Nisa ini akan dibalas Allah dengan berlipat-lipat ganda.” Kata bu guru terharu.
“Sudahlah bu, jangan begitu. Anggap saja ini rezeki yang memang sudah seharusnya menjadi hak mereka. Agar mereka bisa terus belajar dengan ceria.” Kata Nisa.
“Terima kasih banyak Nak.” Jawab bu guru.

            Lalu tiba-tiba saja ada seorang murid perempuan yang bertanya pada Nisa.
“Kak Nisa kak Nisa, kakak Dana ganteng gak?”
Wah, aku gak nyangka bakal jadi pertanyaan seperti ini. Aku langsung malu, dan kulihat Nisa juga terlihat malu, pipinya mulai memerah, semakin membuatnya terlihat sangat manis.
“Iya adik, dia ganteng. Tetapi jika dia bersemangat menjalani hidupnya.” Kata Nisa tersenyum.
“Cieeeeeeeeee...” teriak satu kelas bergemuruh. Hatiku pun rasanya ingin berteriak, tapi ya gak mungkin ikutan teriak juga.

            Setelah itu kami berpamitan dengan gurunya dan dengan anak-anak sekolah ini.

            “Nisa, aku ingin bertanya beberapa hal.” Kataku.
“Apa itu?” jawab Nisa.
“Mereka bisa langsung mengenalimu hanya dengan suara?” tanyaku penasaran. Karena memang tadi anak-anak langsung mengenali Nisa hanya dengan mengatakan salam.
“Iya pastilah. Mereka mungkin tidak dapat melihat, tetapi mereka tidak bodoh.”
“Allah memberikan kelebihan lain di balik sebuah kekurangan. Mungkin mata mereka tidak dapat melihat, tetapi telinga mereka sanggup mengenali suara. Dan hati mereka, sangatlah suci dan bersih. Karena mereka tidak pernah melihat dosa, tidak seperti kita yang selalu melihat dosa dan keburukan.
Dan lihatlah mereka, ada beberapa dari mereka yang kehilangan penglihatan dari lahir, dan ada juga yang kehilangan penglihatan karena kecelakaan atau penyakit. Kamu tahu, jika tidak bisa berbicara, kita masih dapat melihat. Jika kehilangan kaki atau tangan, kita masih bisa berjalan dengan bantuan alat. Tetapi jika sudah kehilangan penglihatan, maka seluruh dunia akan lenyap. Semuanya terlihat gelap. Tak ada alat apapun yang dapat membantu melihat. Hanya bisa pasrah kepada Allah.
            Karena itu, kita yang diberikan Allah semuanya dalam keadaan lengkap dan berfungsi dengan baik, seharusnya bisa lebih bersyukur dan ceria di bandingkan dengan mereka. Bukannya terus-terusan menyalahkan diri sendiri, dan tidak mau bersyukur sama sekali.”

            Pikiranku pun mulai berubah.
Aku menjadi lebih merasa bersyukur, karena sedari kecil aku masih bisa menikmati keindahan dunia ini. Tak ada satupun anggota tubuhku yang kurang. Seharusnya aku bisa memanfaatkannya dengan baik, bukannya malah menyiksa diri sendiri hanya karena putus asa.

            “Baiklah, terima kasih Nisa. Sekarang aku jadi lebih mengerti.” Jawabku sambil tersenyum kepadanya.
“Syukurlah.” Jawab Nisa singkat membalas senyumanku.
“Lalu, kemana kita akan pergi sekarang?” tanyaku.
“Ada sebuah masjid di sana. Sekarang sudah waktunya sholat zuhur. Ayo kita pergi.”
“Ayo!”

            Kami langsung menuju masjid yang ada di dekat daerah tersebut.
Nisa langsung pergi ke tempat wudhu wanita. Aku juga langsung menuju tempat wudhu lelaki. Padahal sebelumnya aku sudah sangat jarang datang ke masjid. Karena keputusasaanku ini, aku hingga melupakan kewajibanku.

            Selesai sholat dan berdo’a, aku keluar dari pintu masjid dan langsung terlihat Nisa sedang berdiri dengan seseorang yang sudah cukup tua. Tetapi tidak terlalu tua, dan sepertinya orang tua tersebut adalah seorang ustad.
            Nisa memberikan kode untuk datang dengan melambaikan tangan. Dan aku langsung saja mendatanginya.

            “Ini pak ustad, teman yang saya ceritakan tadi.” Kata Nisa kepada Ustad.
Aku pun langsung menyalami pak Ustad.
“Dana, mulai sekarang datanglah ke masjid ini. Jika tidak bisa beberapa hari dalam seminggu, maka datanglah seminggu sekali.” Kata pak Ustad.
“Untuk apa pak?” tanyaku penasaran.
“Untuk mengikuti pengajian, dan membaca Al Qur’an bersama-sama.” Kata pak Ustad.
“Baiklah pak. Saya akan coba sebisa saya untuk datang ke masjid ini. Walaupun hanya seminggu sekali.”

            Setelah itu kami berpamitan dengan pak Ustad. Dan juga Nisa langsung pamit padaku untuk langsung pulang.

            “Sampai jumpa minggu depan!” lagi-lagi sebelum pergi Nisa mengucapkan kata ini padaku.
“Tunggu dulu!” kataku menahan dia pergi.
“Setidaknya berikan aku nomor telponmu, agar aku bisa bertanya harus bertemu di mana minggu depan.” Tanyaku.
“Baiklah, ini nomor telponku.” Nisa langsung membacakan nomor telponnya, dan aku langsung menyimpannya di hpku.
“Sudah kan?” tanya Nisa.
“Iya, terima kasih.” Jawabku dengan tersenyum.
“Sama-sama. Semoga hari ini kita bisa mendapatkan pelajaran baru yang berharga. Dan kamu jangan lupa untuk menepati janji, datanglah kemari dan mengajilah. Minimal seminggu sekali kamu harus datang.” Kata Nisa.
“Baiklah iya. Aku janji.” Jawabku.
“Wassalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”

            Setelah mengucap salam, Nisa langsung pergi. Sama seperti minggu kemarin, ia juga langsung pergi meninggalkanku.

            Hari ini aku merasakan perasaan bahagia yang sudah lama tidak kurasakan. Walaupun sebenarnya aku masih penasaran, siapa Nisa sebenarnya?
Aaaah, aku lupa untuk menanyakan identitasnya. Padahal aku sudah menunggu selama seminggu untuk bisa bertemu dan bertanya langsung pada dia.

            Terpaksa aku harus menunggu sampai minggu depan.

Semoga kami bisa bertemu kembali.

Bersambung...


Baca cerita selanjutnya : Sampai Jumpa Minggu Depan! - Part 3

Silahkan berlangganan agar dapat update tentang blog ini dari email anda:

Jangan lupa lakukan Konfirmasi melalui link Aktivasi yang kami kirimkan ke email Anda!

0 Response to "Sampai Jumpa Minggu Depan! - Part 2"

Posting Komentar

Berkomentarlah sesuai artikel, agar komentar kami terbitkan. Dan komentar yang mengandung url atau unsur promosi akan di hapus.
Terima kasih ^_^