Sampai Jumpa Minggu Depan! – Part 1


Cerbung Sampai Jumpa Minggu Depan!

Judul : Sampai Jumpa Minggu Depan!
Genre : Cinta, Sedih, Motivasi
Penulis : Muhammad Mu’az


PART 1

            Aku Dana, dan aku adalah orang yang paling putus asa di dunia.

            Hidupku setiap hari berjalan dengan sendirinya, tidak ada satupun yang berjalan sesuai dengan keinginanku. Ayahku sudah meninggal sejak aku masih SD, dan aku adalah anak lelaki tunggal yang hanya tinggal berdua dengan ibuku.
Sedangkan ibuku selalu sibuk berkeja. Ya, aku mengerti, itu semua karena untuk membiayai hidup kami, terutama pendidikanku.
Tapi sampai saat ini, rasa kesepian selalu menghantuiku.
Aku seperti mayat berjalan, tidak punya perasaan, tidak punya pemikiran. Aku kuliah di semester terakhir, dan tentu saja tugas sudah banyak menunggu untuk diselesaikan. Tapi hingga kini tak satupun yang sudah ku kerjakan.

            Aku tidak punya seorang teman dekat. Yang kupunya hanyalah banyak teman sapaan, dan beberapa teman yang menurutku hanya datang ketika butuh, lalu pergi tanpa terima kasih.
Cih, aku paling tidak suka berteman dengan orang seperti itu, lebih baik tetap menjalani hidup sendiri seperti ini.
            Dalam duka, kesepian, dan juga kehampaan. Hanya berteman kegagalan, dan juga kepahitan hidup yang sangat kejam.

*****

            Hari ini aku sudah mencapai titik kehampaan hidupku.
Aku sudah tidak tahan lagi menjalani aktivitas yang selalu begini, tak pernah berubah setiap harinya. Menjalani hari tanpa semangat, lagi dan lagi. Tanpa seorang teman baik, lagi dan lagi. Begitu saja seterusnya.

            Aku memutuskan untuk bolos kuliah, dan pergi ke sebuah jembatan yang luas dan panjang di kota tempat tinggalku.
Aku berdiri di dekat besi pembatas, dan melihat air yang ada di bawah jembatan.
            Aku berpikir, mungkin lebih baik aku lompat saja ke dalam sungai ini. Mungkin akan lebih baik rasanya, dari pada menjalani hidup yang tak pernah berubah seperti ini.

            Namun, lamunan tiba-tiba terhenti.
“Assalamu’alaikum.” Aku mendengar suara seorang wanita yang sangat lembut. Aku baru pertama kali mendengar suaranya.
“Assalamu’alaikum.” Sekali lagi suara ini terdengar, tepat dari sebelah kananku. Aku pun langsung berbalik badan dan melihat siapa yang memberi salam padaku.
“Wa’alaikum salam.” Jawabku cepat dan juga merasa bingung.
Kulihat di depanku ada seorang wanita yang sangat manis, menggunakan pakaian yang sangat tertutup, dan menggunakan hijab yang berwarna hijau. Matanya sangat indah, senyumnya seolah-olah membuatku mendapatkan tegangan semangat.

            “Maaf kalau aku mengagetkan. Tapi apakah kamu baik-baik saja?” tanya wanita tersebut kepadaku. Mungkin dia heran melihatku yang dari tadi melamun seorang diri, dan mungkin dia menyangka bahwa aku akan terjun ke dalam sungai. Karena memang sangat kelihatan, bahwa aku adalah orang yang paling putus asa.

            “Iya, aku baik-baik saja.” Jawabku singkat pada wanita yang masih asing bagiku.
“Namaku Nisa, maaf jika mengganggu. Namun aku hanya ingin menyapamu, walaupun kita belum pernah kenal sebelumnya.” Kata wanita tersebut yang ternyata bernama Nisa.
“Iya tidak masalah. Aku Dana.” Aku memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan. Dan ternyata Nisa tidak menjabat tanganku, melainkan hanya membalas salam dengan gerakan tangan seperti wanita muslimah lainnya.
“Maaf, tapi apakah kamu ada kegiatan minggu depan?” Nisa bertanya kepadaku, dan tentu saja aku merasa sedikit bingung. Wanita seperti dia, bertanya seperti itu kepadaku yang baru dikenalnya.
“Tidak. Aku libur kuliah dan tidak ada kegiatan lain yang berharga.” Jawabku dengan nada yang sedikit malas.
“Kalau begitu, minggu depan kamu mau ikut aku?” dan sekarang pertanyaan Nisa semakin membuat diriku bingung.
“Ikut kemana?” tanyaku singkat karena sangat penasaran.
“Tenang saja, kita akan pergi ke tempat yang mungkin bisa membuat perasaanmu jauh lebih baik. Kita bertemu di taman kota jam 10 pagi ya?” tanya Nisa.
“Iii.. iya. Tapi kemana?” setelah pertanyaanku ini, Nisa langsung saja pergi dan mengucapkan salam. Aku pun membalas salamnya dan merasa sangat heran dan bingung.

            Sebenarnya siapa wanita ini?
Kenapa dia menghampiriku dan mengajakku pergi?
Ada urusan apa dia denganku?
            Untuk menjawab semua kebingungan ini, aku harus menemuinya langsung di taman minggu depan!

*****

            Tidak terasa hari minggu pun tiba.

            Jujur saja, sebenarnya aku sangat malas untuk bangun pagi. Karena biasanya aku begadang dan bangun jam 12 lewat. Tapi kali ini aku sempatkan untuk bangun jam 9 pagi.
Jangan heran, ini adalah waktu paling cepat aku bangun.

            Setelah selesai bersiap-siap, aku pun langsung bergegas pergi ke taman dengan motor.

            Karena taman kota yang tidak terlalu jauh, dan hari ini juga tidak begitu macet. Aku bisa datang tepat waktu, pukul 10 pagi.
Kulihat di salah satu bangku taman ada seorang wanita yang sedang duduk. Sudah kuduga itu pasti Nisa.
            Langsung saja aku menghampirinya, dan dia pun langsung berdiri ketika melihat aku datang.

            “Kemana kita akan pergi?” itulah pertanyaan pertama ketika aku berhadapan dengan Nisa.
“Assalamu’alaikum.” Nisa malah memberikan salam kepadaku. Sentak saja aku langsung menjawab salamnya, “Wa’alaikum salam.”
“Kita akan pergi ke sebuah rumah yang dipenuhi dengan keberkahan.” Jawab Nisa singkat dengan senyuman tipis di wajah manisnya.
“Baiklah, terserah kalau begitu. Ayo kita pergi, aku memarkirkan motorku disana.” Kataku sambil menunjuk letak motorku.
“Tidak tidak. Kita tidak akan bocengan berdua. Kamu tau kan kita bukan muhkrim?” kata Nisa.
“Jadi, kita mau pergi naik apa?” tanyaku yang semakin bingung oleh wanita ini.
“Kita akan jalan kaki. Karena tujuannya tidak jauh dari taman ini. Dan disini juga ramai, jadi tidak ada alasan untuk berbuat yang tidak-tidak.” Jawab Nisa dengan nada mengingatkan.
“Baiklah, terserah apa katamu. Tapi jika kamu membawaku ke tempat yang membosankan, aku akan segera pulang.” Kataku dengan nada malas.
“Iya baik.” jawab Nisa singkat.

            Kami berjalan dengan jarak yang tidak dekat. Cukup untuk menyingkirkan semua kecurigaan. Dan setelah beberapa menit, kami sampai di sebuah rumah besar yang bertuliskan ‘Rumah Yatim Piatu’. Yap, ini adalah sebuah rumah untuk merawat anak-anak yatim piatu, dan mereka juga diajarkan ilmu agama yang baik.

            Aku heran, setelah sampai ke rumah ini, anak-anak yatim piatu langsung saja berlarian dengan senyum dan menghampiri Nisa.
“Assalamu’alaikum.” Kata Nisa kepada anak-anak tersebut.
“Wa’alaikum salam kak Nisaa!” jawab anak-anak yatim piatu tersebut dengan nada ceria.
            Setelah itu kami di persilahkan masuk oleh pengurus rumah, dan kulihat Nisa memberikan amplop untuk setiap anak yang ada di rumah yatim piatu ini.

            Setelah acara selesai, Nisa bercerita kepadaku.
“Tahukah kamu, kalau di dunia ini ada yang lebih menderita hidupnya di bandingkan dengan kita?” tanya Nisa.
“Ya, aku tahu.” Jawabku singkat.
“Mereka, anak-anak kecil ini, sudah di tinggalkan oleh ayah dan ibunya sedari kecil. Mereka di sini di asuh oleh orang tua angkat. Dan hidup dari sedekah orang lain. Walaupun begitu, lihatlah mereka. Lihatlah senyuman mereka. Terasa sangat tenang melihat mereka, walaupun sebenarnya keadaan mereka tidak seharusnya diberikan senyuman. Tapi itulah yang namanya bersyukur.”
            Nisa berhenti sebentar, lalu melanjutkan.
“Kita harus bisa lebih bersyukur dari mereka. Setidaknya kita sempat untuk bertemu dengan kedua orang tua kita, dan juga merasakan kasih sayang. Tidak seperti mereka yang tidak punya kesempatan yang sangat berharga itu.”

            Sejenak aku berpikir. Memang benar yang dikatakan Nisa.
Walaupun sekarang ayahku sudah tiada, setidaknya dulu aku sempat dimanjakan oleh ayah. Dan sekarang aku juga masih memiliki seorang ibu. Ibu yang selalu bekerja keras banting tulang untuk menghidupi aku.
            Selama ini aku mengira nasibku yang paling buruk, dari kecil sudah kehilangan sosok ayah. Tetapi aku hanya sebagian kecil, dari anak-anak yang ditinggalkan orang tua. Dan aku masih lah beruntung dibandingkan dengan mereka yang sama sekali tidak pernah tahu sosok orang tuanya.

            “Sekarang, kamu mengerti kan, kenapa kita kemari?” tanya Nisa kepadaku.
“Iya, aku mengerti. Terima kasih kamu telah mengajakku kemari. Aku mendapatkan pelajaran untuk hidupku yang kurasa sangat membosankan ini.” Jawabku dengan tersenyum kecil kepada Nisa. Itu adalah senyuman pertama yang kuberikan untuknya sejak kami bertemu minggu lalu.
“Sama-sama. Yang terpenting adalah bersyukur. Itu adalah kunci untuk tetap menjaga pikiran kita, agar tidak merasa menjadi manusia paling sengsara.” Kata Nisa.

            Tak sempat aku menjawab, Nisa langsung berpamitan denganku.
“Baiklah, sebaiknya aku pulang sekarang.”
“Biar ku antar.” Jawabku singkat.
“Tidak perlu, aku sudah biasa kemari dan juga pulang sendiri. Terima kasih atas tawaranmu, dan berhati-hatilah dijalan.” Jawab Nisa.
“Aku yang seharusnya berterima kasih padamu Nisa.” Jawabku.
            Nisa hanya tersenyum, dan senyumannya benar-benar manis. Menyejukkan hati, dan membuatku tak ingin berpaling.
“Wassalamu’alaikum. Dan sampai jumpa minggu depan!” setelah mengatakan itu, Nisa langsung pergi.
“Wa’alaikum salam.” Jawabku pelan sambil melihat dia pergi.
Aku bingung, apa maksudnya ‘sampai jumpa minggu depan?’, dan di mana aku harus bertemu lagi dengannya?
Dia masih saja membuatku bingung, dari pertama kali bertemu.

            Bagaimana sekarang?
Apa yang harus aku lakukan?
Aku harus mencari jawabannya lagi di minggu depan. Mungkin bertemu di tempat yang sama seperti minggu ini.

            Tapi kemanakah Nisa akan mengajakku pergi?

Bersambung...


Baca cerita selanjutnya : Sampai Berjumpa Minggu Depan! - Part 2

Silahkan berlangganan agar dapat update tentang blog ini dari email anda:

Jangan lupa lakukan Konfirmasi melalui link Aktivasi yang kami kirimkan ke email Anda!

0 Response to "Sampai Jumpa Minggu Depan! – Part 1"

Posting Komentar

Berkomentarlah sesuai artikel, agar komentar kami terbitkan. Dan komentar yang mengandung url atau unsur promosi akan di hapus.
Terima kasih ^_^