Cerpen: Kencan Pertamaku



Judul Cerpen : “Kencan Pertama
Karya : Ahmad Khadafi
Kategori : Cinta, Sedih
Karakter : Kelvin, umur 20 tahun - Jessie, umur 19 tahun - Nenek umur 80 tahun

Happy Reading Minna-san

“Kau tahu indahnya cinta? Pernahkah kau merasakan kehilangan yang amat menyakitkan? Terkadang, entah berapa lama aku terpuruk didalam kesendirian dan kesepian. Hei, kau yang disana. Aku mencintaimu. Selamanya.”


“Ah sial.” Rutukku dalam hati. Siang hari ini merupakan hari yang cerah. Dan tentu saja, ini hari yang begitu istimewa. Bagaimana tidak, hari ini merupakan kencan pertamaku. Tetapi, lampu merah ini mengacaukannya. Kulirik arlojiku sudah menunjukkan pukul 2 siang “Oh tidak. Aku harus bergegas. Semangat.” Ku katakan itu entah pada siapa mengingat hanya aku seorang yang berada didalam mobil sport berwarna kuning ini yang aku beli pada tahun lalu. Lampu merah berganti menjadi hijau, pertanda pengendara boleh melaju.
“Aku harus bergegas.” Kuulang kalimatku seraya tersenyum memikirkan kencan pertamaku. Aku ingin membuat hal ini menjadi hal yang istimewa. Dengan berpakaian celana Le Jeans, dengan dalaman kaos V-neck dengan di padukan dengan kemeja kotak-kotak.
“Kurasa aku sudah cukup tampan.” Seraya bergumam pada diriku sendiri.

Sebelum sampai di lokasi kencan, aku mampir ke toko bunga di pinggir jalan
“Hmm.. Nama toko bunga yang aneh.” Ujarku karna melihat nama toko bunga ‘Toko bunga sang nenek’ tersebut. Aku langkahkan kakiku masuk ke dalam toko bunga tersebut. Klenteng.. bunyi lonceng yang ada di toko bunga secara otomatis berbunyi. Aku sapukan pandanganku kesegala arah ruangan toko ini.
“Aneh, kok sunyi sekali.
Bagaimana tidak, toko ini sangat kecil. Cat dinding yang berwarna biru muda yang sudah tampak terkelupas, bunga-bunga yang berserak, dan bunga yang sudah kering di simpan di dalam toples kaca. Segera saja kulangkahkan kakiku keluar dan pada saat itu juga, seseorang menepuk pundakku.

“Halo.. Selamat datang di toko bunga sang nenek.” Sapanya ramah kepadaku. Sontak saja, aku arahkan pandanganku ke wajahnya.
“Ada yang bisa saya bantu?” lanjutnya lagi seraya tersenyum.
“Halo” sapaku ramah seraya tersenyum. Ternyata, nama toko bunga tersebut diambil dari nama penjualnya, yaitu seorang nenek-nenek yang kuperkirakan umurnya sudah 80 tahunan.
“Saya ingin membeli bunga nek.” Ujarku kepada nenek yang sedang mendengarkanku berbicara.
“Tapi, saya bingung mau pilih yang mana. Saya tidak tahu pacar saya suka bunga apa nek.” Ku lanjutan kalimatku seraya berfikir.
“Kalau masalah itu, serahkan saja kepadaku.” Ujar sang nenek penjual bunga. Kulihat, ia berjalan di arah meja yang berada di sudut ruangan. Kulihat tangannya sangat terampil mengikat dan merangkai bunga mawar berwarna merah. Aku pun kagum melihatnya.
“Sudah selesai.” Seru nenek penjual bunga kepadaku.
“Waahh.. Indah sekali nek.” Kulihat wajahnya yang kini menua tampak sedih.
“Nenek.. Kau kenapa?” tanyaku kepadanya.
“Hei nak. Kau mengingatkanku kepada pacar, sekaligus suamiku yang telah meninggal.” Sontak saja, apa yang dikatakan sang nenek membuat hatiku tersentuh.
“Bunga mawar yang kau pegang itu, merupakan bunga yang diberikan dulu kepadaku saat kencan pertama kami, hingga saat ini selalu ku simpan.” Lanjut nenek.
Pantas saja, aku melihat bunga kering di simpan di dalam toples kaca sejak pertama kali datang, gumamku dalam hati.

“Ah tapi itukan masa lalu.” Lanjutnya lagi sambil nenek penjual bunga tersenyum kepadaku. Kubalas senyumnya dengan senyumku yang tak kalah lebar.
“Jadi nek, berapa yang harus kubayar?” ujarku sambil merogoh uang di saku celanaku.
“Tidak usah bayar nak, itu gratis.” Ujar sang nenek.
Sontak saja, aku pun tersentuh atas kebaikannya sekaligus terheran mendengar kalimat yang di ucapkan Nenek tersebut. Lalu, aku tersenyum.
“Terima kasih nek.” Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutku.
Kulihat, nenek tersebut senyum kepadaku. Kulirik arlojiku, dan setelah itu aku permisi pamit keluar toko bunga. Sebelum kulangkahkan kaki ku, ku dengar nenek berbicara.
“Kau pria yang baik nak. Percayalah, siapapun yang mendapatkanmu, orang itu adalah orang yang sangat beruntung sekali.
“Terima kasih nek.” Ku ucapkan kepadanya dan aku bergegas keluar toko bunga menuju mobil sport kuningku. Langsung saja, aku nyalakan mesinnya, dan menuju ke lokasi kencanku.

Entah berapa lama, aku pun sampai ke lokasi kencan. Kuparkirkan mobilku di tempat parkir yang telah di sediakan. Langsung saja, aku masuk ke lokasi kencanku dan menuju kepadanya.
“Hei.. Apa kabarmu Jessie, aku merindukanmu.” Ujarku kepadanya dengan senang. Tetapi, Jessie tidak menjawab.
“Hei Jessie, kenapa kau diam saja hah!” ku keraskan kalimatku kepadanya. Tetapi, Jessie juga tidak menjawab.
“Jessie, aku merindukanmu. Sangat merindukanmu. Kau tahu, kau bilang kau sangat ingin berkencan denganku kan? Sekarang, sudah aku laksanakan Jessie. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu Jessie. Kuharap, kau tidak melupakanku.

Aku menangis tersedu-sedu dan kuletakkan bunga mawar yang diberikan oleh nenek penjual bunga ke atas batu nisan Jessie.
Ya, Jessie pacarku sudah meninggal. Dia meninggal 3 bulan yang lalu. Jessie, pacarku terkena penyakit Leukemia stadium 4 sehingga merenggut nyawanya. Sebelum ia meninggal, ia berkata kepadaku.
“Hei Kelvin, aku sangat mencintaimu sayang. Aku ingin sekali berkencan denganmu.” Itulah kalimat terakhir yang dikatakan Jessie kepadaku.
“Hei sayang, aku telah melaksanakan apa yang kau inginkan saying.” Ujarku sambil memandang batu nisan Jessie.
Tak kuasa air mataku terus mengalir.
“Aku akan selalu berdoa, agar kau selalu bahagia di atas sana ya.” Kulanjutkan kalimatku, seketika tangisku pecah. Bunga mawar yang kuletakkan di atas batu nisan tadi, terkena air mataku. Seketika, langit menjadi mendung, seperti tahu akan kesedihan hati yang sedang aku alami saat ini. Jessie, pacarku memang sudah meninggal. Tapi, dia masih hidup di dalam hatiku ini. Kenangannya, saat tertawanya, saat dia tersipu malu, akan ku ingat selalu pacarku Jessie, di dalam hatiku ini dan momen ini tidak akan kulupakan, karena ini merupakan kencan pertamaku.

- END -


Cerita ini hanya Fiktif belaka. Apabila terdapat kejadian, latar, waktu yang terdapat didalam cerita ini, merupakan unsur yang tidak disengaja..
Tunggu cerpen selanjutnya ya..
Ja…

Silahkan berlangganan agar dapat update tentang blog ini dari email anda:

Jangan lupa lakukan Konfirmasi melalui link Aktivasi yang kami kirimkan ke email Anda!

0 Response to "Cerpen: Kencan Pertamaku"

Posting Komentar

Berkomentarlah sesuai artikel, agar komentar kami terbitkan. Dan komentar yang mengandung url atau unsur promosi akan di hapus.
Terima kasih ^_^