Cerpen: Buka Mata Buka Hati


cerpen buta mata buta hari

Judul Cerpen : “Buta Mata Buta Hati
Karya : Muhammad Mu’az
Kategori: Cinta, Sedih


            “Cepatlah Yu, aku sudah tidak sabar ingin jalan-jalan di taman.” Kataku kepada Wahyu yang lagi merunduk dibawah untuk mengikat tali sepatuku.
“Iyaiya sabar, ini sedikit lagi rebes kok.” Kata Wahyu membalas.
“Beres kali, bukan rembes. Eh maksudnya rebes.” Aku membalas candaan Wahyu dengan sedikit tertawa.
“Hehehehe, iyaiya. Nah, sekarang sudah siap. Sepatu cantik untuk orang yang cantik juga.” Kata Wahyu kepadaku.
“Ah kamu, dari dulu gak pernah berubah. Ini udah yang keberapa kalinya kamu bilang gitu hah?” kataku.
“Biarin, emang kamu cantik kok.” Kata Wahyu mengejekku.

            Inilah kisahku, tentang seorang gadis buta bernama Yani, yaitu diriku sendiri. Dan yang selalu menamaniku setiap saat adalah Wahyu. Ia sahabat terbaikku, dari kecil aku sudah terlahir sebagai seorang anak yang buta. Tetapi aku masih tetap bisa merasakan kebahagiaan dengan hatiku, berkat Wahyu. Yang selalu setia ada disampingku, dan selalu menemaniku jalan-jalan di taman setiap sore.

Ya, itulah hobiku. Walaupun aku tidak bisa melihat, tetapi aku tetap bisa merasakan ketenangan di taman yang penuh dengan bunga-bunga yang indah.
Setiap kali kami berdua jalan-jalan di taman, Wahyu selalu menceritakan padaku tentang keindahan bunga-bunga yang ada di taman ini. Aku bisa melihat bunga-bunga ini berkat cerita dari Wahyu. Berkat dirinya, aku bisa membayangkan keindahan bunga-bunga.

            Jadi apakah hubungan kami hanya sebatas sahabat?

            Dulu Wahyu sempat menyatakan perasaannya padaku, bahwa sebenarnya ia cinta kepadaku. Mendengar pernyataannya, aku tidak bisa berkata apapun. Aku berpikir, apa yang ia suka dari seorang gadis buta seperti diriku?
Bukannya diluar sana banyak gadis cantik yang bisa melihat?

            Aku hanya bisa terdiam, dan saat itu Wahyu berkata “Sudahlah, tidak perlu dijawab. Aku hanya ingin kamu mengetahui itu. Aku tidak perlu balasannya jika kamu tidak bisa.”
Sampai sekarang pun aku masih belum memberikan jawaban tentang perasaanku kepada Wahyu. Dan sebenarnya aku juga punya perasaan dengan dirinya.
            Dialah satu-satunya lelaki yang selalu setia padaku. Ia orang yang menolongku saat aku putus asa dengan kebutaan ini. Dan dia yang menjadi mata duniaku.
Tanpa dirinya, aku sama sekali tidak mengetahui keindahan-keindahan yang ada di dunia ini. Karena aku sudah buta dari lahir.

            Sore ini kami kembali jalan-jalan ke taman seperti biasanya.
Dan Wahyu selalu menceritakan tentang keindahan bunga-bunga yang ada di taman ini.
Aku selalu tersenyum saat ia bercerita, sembari membayangkan keindahan bunga-bunga yang diceritakannya. Dan saat aku berjalan pun aku tidak pernah lagi menggunakan tongkat.

            Wahyu pernah berkata padaku, “Biarlah aku yang menjadi tongkat untukmu. Kau tidak perlu memegang tongkat lagi, cukup genggam tanganku dan aku akan menuntunmu kemanapun yang kamu inginkan.”
Sejak saat itu, aku sama sekali tidak pernah menggunakan tongkat. Tangan dia lah yang selalu kupegang erat, dan tidak berani kulepaskan.

            Suatu hari, akupun akhirnya mendapatkan kabar yang sangat menggembirakan. Kabar tentang pendonor mata yang mau memberikan matanya untuk diriku.
Berita ini benar-benar hal yang paling membahagiakan untukku. Karena selama 18 tahun hidup dalam kegelapan, aku akhirnya bisa melihat keindahan dunia ini!

            Akupun segera mengatakan kabar ini kepada Wahyu.
“Apa!? Syukurlah kalau begitu! Aku sangat bahagia, karena sebentar lagi kamu bisa melihat! Kamu akan bisa melihat seluruh keindahan dunia ini!”
Aku sangat senang, aku benar-benar senang. Aku tidak sabar menunggu saat operasi tiba, agar mataku bisa cepat diganti.

            Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba.
Hari ini aku menjalani operasi, dan kedua orang tuaku beserta Wahyu berada di ruang tunggu untuk menantikan kabar dari dokter tentang operasiku.
            Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya dokter keluar dan mengatakan bahwa operasi berjalan lancar dan sempurna.
Aku semakin tidak sabar untuk segera melihat dunia ini, aku tidak sabar ingin melihat wajah Wahyu!

            Setelah menunggu beberapa hari, akhirnya perban mataku perlahan dibuka. Pertama kali yang kulihat adalah cahaya yang tiba-tiba redup, lalu mulai menerang, dan akhirnya tampak jelas orang-orang yang ada di sekelilingku.
Aku bisa melihat kedua orang tuaku di samping kanan tersenyum bahagia hingga meneteskan air mata. Dan di sebelah kiriku aku melihat seorang lelaki luar biasa yang selalu menemaniku setiap saat.

            Wahyu pun tersenyum haru melihat diriku bisa melihat kembali.

            Setelah aku bisa melihat, awalnya tidak ada yang berubah. Semua aktivitas masih sama seperti yang kulakukan saat buta dulu.
Aku bersama Wahyu masih selalu jalan-jalan sore hari ke taman. Tetapi karena aku sudah bisa melihat, aku sekarang bisa mengikat tali sepatuku sendiri.
“Yakin tidak mau kubantu seperti dulu?” tanya Wahyu melihatku mengikat tali sepatu.
“Enggaklah. Kan sekarang aku udah bisa melihat.” Kataku tersenyum.
“Iyaiya deh. Padahal ngikat tali sepatumu udah jadi hobiku loh. Jadi sekarang aku harus apa? Masa iya aku harus ngiket tali sepatu cewek lain sekarang.” Kata Wahyu meledekku.
“Iiiih. Yaudah sana! Sana cari aja cewek lain yang mau tali sepatunya di iket sama kamu!” kataku membalas.
“Hahahahaha. Ternyata kalau lagi kesel mukanya makin cantik ya. Tuh lihat, jadi merah. Hahahaha.” Wahyu tertawa.
“Huh! Dasar!” kesalku.

            Ketika jalan-jalan ketaman, aku pun sudah mulai berubah. Aku sudah tidak menggenggam tangan Wahyu lagi. Dan karena aku sudah bisa melihat bunga-bunga dengan sendiri, aku jadi tidak perlu lagi mendengarkan cerita Wahyu.

            Sampai suatu saat ketika aku pergi sendiri keluar. Aku bertemu dengan seorang lelaki yang sangat ganteng dan juga kaya.
“Hai, boleh kenal gak? Aku Dana.” Lelaki itu mengulurkan tangannya kepadaku.
Sentak aku pun langsung menjabat tangannya dengan sedikit malu.
“Aku Yani.” Jawabku.
“Nama yang indah untuk gadis secantik dirimu.” Kata Dana.
“Makasih.” Jawabku singkat.

            Mulai dari perkenalan itu, Dana meminta nomor WhatApps ku, dan hari demi hari kami mulai chattingan dengan akrab.
Dana juga sering memberikanku hadiah berupa boneka panda yang sangat lucu. Dan hari demi hari mulai berlalu, kini banyak yang sudah berubah.
            Aku sudah sangat jarang jalan-jalan sore dengan Wahyu lagi. Sekarang aktivitas tersebut tergantingan dengan berkeliling kota menggunakan mobil dengan Dana.

            Hingga suatu hari Dana menyatakan perasaannya padaku. Ia mengatakan bahwa dia mencintaiku.
Ini adalah momen kedua aku ditembak oleh seorang lelaki. Tetapi yang membuatnya berbeda adalah, kali ini aku menerima cinta Dana, dan menjadi pacarnya.
Sedangkan dulu aku tidak menjawab sama sekali perasaan yang Wahyu ungkapkan kepadaku.

            Akhirnya setelah lama tidak bertemu, Wahyu kembali datang kerumahku.
“Yani, yuk jalan-jalan sore lagi. Tapi sebelumnya aku minta maaf ya, karena beberapa minggu ini aku jarang menemuimu. Karena ada beberapa urusan keluarga yang harus ku ikuti.” Kata Wahyu.
Aku mencoba untuk menenangkan diri, dan mulai memberanikan bicara kepada Wahyu.
“Sebenarnya ada yang ingin aku bilang kepadamu.” Kataku singkat.
“Apa? Gak biasanya nih kamu terlihat ragu. Mau kasih kado ulang tahun buatku ya? Tenang aja, ulang tahunku udah lewat kok. Hehehehehe.” Jawab Wahyu bercanda.
“Bukan, bukan itu. Kali ini aku benar-benar serius. Tapi janji kamu jangan marah ya?” kataku.
“Iyadeh iya maaf. Aku janji gak bakal marah.”
“Sebenarnya aku udah jadian sama cowok lain. Aku udah lama dekat sama dia, dan kemarin dia bilang cinta padaku. Aku juga tidak bisa menolak dirinya.”
“Jadi, kamu sudah berpacaran dengannya? Siapa nama lelaki itu?” kata Wahyu dengan nada yang mulai berubah.
“Namanya Dana. Aku sungguh minta maaf. Kumohon kamu jangan marah.” Kataku berharap.

            Yang tidak kusangka adalah Wahyu malah tersenyum padaku.
“Tidak. Aku tidak akan marah. Aku justru bahagia karena akhirnya kamu menemukan cinta yang kamu inginkan.” Kata Wahyu dengan tulus.
Lalu belum sempat aku menjawab, Wahyu kembali berkata.
“Yaudah. Sore ini pasti kamu juga udah ada rencana dengan Dana kan?” tanya Wahyu.
Aku hanya bisa mengangguk pertanda iya.
“Baiklah. Mungkin kali ini bukan waktu yang tepat untuk kita jalan-jalan seperti dulu. Aku mungkin harus jalan-jalan sendiri deh sekarang. Hehehehehe.” Jawab Wahyu dengan tersenyum. Padahal aku tau perasaannya benar-benar sakit.
“Aku pergi dulu ya. Maaf nih gak bisa nunggu Dana datang. Aku titip salam untuk dia.”
Itulah kata-kata terakhir yang dikatakan Wahyu, dan ia langsung pergi.

            Setelah beberapa saat pun Dana datang, dan aku langsung naik ke dalam mobilnya.

Ternyata hari ini bukanlah hari yang mebahagiakan dalam hidupku. Ketika aku dan Dana sedang jalan-jalan. Tiba-tiba saja Dana melaju dengan sangat kencang, dan rem mobilnya mendadak blong. Tabrakan pun tidak terelakan lagi.
            Tetapi yang paling parah dari kecelakaan itu adalah diriku. Mataku tertusuk pecahan kaca, dan mengalami luka yang sangat parah.

            Setelah beberapa hari dirawat.
Dokter menyatakan bahwa aku mengalami kebutaan permanen karena luka yang sangat serius di bagian mata.
            Mendengar kabar tersebut, aku hanya bisa terdiam. Aku tidak percaya kalau akhirnya aku kembali ke dalam dunia yang gelap dan tidak ada siapapun di dalamnya.
Aku ingin menangis sejadi-jadinya, tetapi hal itu tidak akan bisa membuat mataku kembali melihat.
Aku mencoba menerima kenyataan yang sangat pahit ini.

            Kini aku kembali menjadi seorang gadis buta seperti dulu lagi.
Dana sudah tau keadaanku, dan dia sudah bertanggung jawab dengan menanggung seluruh biaya pengobatanku. Setelah itu dia pun menghilang tanpa kabar.

            Saat seperti ini entah mengapa aku jadi teringat dengan Wahyu.
Aku menangis, selalu menangis. Sekarang aku hanya seorang diri. Wahyu juga tidak pernah lagi bertemu denganku semenjak hari itu. Saat aku mengatakan bahwa aku telah berpacaran dengan Dana.
Aku menangis. Aku menyesal. Sangat menyesal. Aku benar-benar cewek yang egois.

            Setelah beberapa minggu aku menyendiri, tak pernah keluar, dan tak pernah jalan-jalan ke taman lagi.
Orang tuaku mengatakan bahwa mereka punya kabar gembira. Bahwa mereka sudah kembali menemukan pendonor mata untukku.

            Sentak kabar ini mulai memunculkan semangatku yang sudah redup.
Ingin rasanya aku berbagi kebahagiaan ini kepada Wahyu, sama seperti dulu. Tetapi sekarang semuanya sudah berubah.
Wahyu telah pergi menjauh dariku.
Aku tidak tau apakah ia tau bahwa aku sekarang sudah buta kembali.
Atau mungkin saja ia mengira bahwa aku baik-baik saja dan masih berpacaran dengan Dana?

            Sudah kucoba berkali-kali menghubungi Wahyu melalui telpon.
Tetapi panggilanku selalu tidak dijawab. Dan setelah kucoba untuk yang kebelasan kalinya, akhirnya suara muncul dari telpon.
“Maaf aku sedang sibuk.”
Itulah beberapa kata yang kudengar dari telpon.
Aku sungguh tidak menyangka Wahyu mengatakan itu padaku.
Aku benar-benar tidak menyangka.

            Hari demi hari berlalu, akhirnya mata yang di donorkan sudah siap. Dan untuk kedua kalinya aku melakukan operasi.
Syukur kali ini operasiku kembali berjalan lancar. Dan beberapa saat ketika perban mataku dibuka, kini aku sudah bisa melihat kembali.
Aku merasa sangat bahagia, walaupun rasa bahagia ini terasa palsu, karena tidak ada Wahyu disisiku.

            Hari demi hari pun berlalu. Aku masih belum dapat kabar dari Wahyu.
“Sebenarnya kemana dia pergi?” kataku dalam hati.
Mungkin saja ia pergi untuk meneruskan bisnis ayahnya diluar kota. Karena kemarin dia juga berkata ada urusan keluarga sehingga ia menghilang selama berminggu-minggu.
Tetapi aku hanya ingin meminta maaf kepadanya. Aku harus bisa menemuinya.

            Aku memberanikan diri untuk datang kerumahnya.
Ternyata benar, rumah Wahyu terlihat kosong. Dan hanya ada pembantunya dirumah tersebut.
Aku bertanya kepada pembantunya. Tetapi pembantunya hanya mengatakan bahwa mereka telah pergi keluar kota beberapa hari yang lalu, untuk urusan bisnis.

            Aku merasa lega, setidaknya sekarang aku tau bahwa Wahyu baik-baik saja. Dan dia hanya pergi keluar kota untuk meneruskan bisnis ayahnya.
“Ini non, sebelum pergi den Wahyu menitipkan surat ini.” Kata pembantunya.
“Oh iya, terima kasih ya bik.” Jawabku.

            Setelah kembali pulang, aku duduk di atas tempat tidurku. Dan teringat surat pemberian Wahyu. Langsung saja kubuka surat tersebut.

            “Dear Yani,
Aku minta maaf jika harus pergi mendadak seperti ini. Karena aku tidak mau dirimu tau kalau aku telah mengidap penyakit kanker darah stadium akhir. Dan dokter mengatakan bahwa umurku tinggal beberapa bulan lagi. Jadi sebenarnya selama beberapa minggu lalu aku menghilang bukan untuk urusan keluarga. Tetapi hanya untuk menjalani beberapa pengobatan yang bisa meringankan rasa sakitku.

Sebenarnya saat itu aku mengajakmu jalan-jalan ke taman untuk yang terakhir kalinya. Dan aku ingin melihat wajah cantikmu untuk yang terakhir kalinya. Tetapi aku mendapat kabar bahwa kau telah menjadi milik orang lain. Aku hanya bisa pasrah, kini hatiku juga ikut terasa perih, bukan hanya tubuhku.

Tapi aku tidak membencimu sedikitpun.
Dan aku benar-benar minta maaf karena mengatakan bahwa aku sibuk ditelpon. Sebenarnya saat itu aku sedang menjalani pengobatan terakhirku, dan aku sedang menyelesaikan apa yang harus kulakukan untuk yang terakhir kalinya.

            Aku juga minta maaf karena tidak bisa melihatmu saat operasi keduamu. Aku tidak bisa berada di sana saat kau bisa melihat untuk yang kedua kalinya.

            Tetapi kumohon jangan sedih, aku mungkin tidak melihatmu. Tetapi kini kau bisa melihat kembali dengan kedua mataku.
Aku sengaja mendonorkan mataku untukmu saat itu. Karena hanya inilah kebahagiaan terakhir yang bisa kuberikan saat aku akan pergi untuk selamanya.

            Kini kamu tidak perlu takut lagi Yani. Karena dengan mata itu, kamu bisa kembali melihat seluruh dunia ini dengan indah.
Kamu bisa melihat bunga-bunga di taman yang selalu kuceritakan padamu dulu.
Kini kamu bisa mencari cinta yang kamu inginkan.

            Sampai kapanpun, aku akan selalu mencintaimu.
Sahabatmu, orang yang sangat mencintaimu, Wahyu.

            Air mataku tidak dapat terbendung lagi.
Hatiku terasa hancur.
Aku tidak tau harus berbuat apa.
Aku benar-benar tidak menyangka kalau mata yang di donorkan ini adalah mata milik Wahyu, sahabatku dan lelaki yang tulus mencintaiku.

            Aku menangis, air mataku tidak bisa berhenti.
“Kenapa!! Kenapa aku bisa sebodoh ini!!”
Aku benar-benar merasakan penyesalan yang tidak akan bisa hilang sampai kapanpun.

            Kini aku baru sadar, ketika bercermin aku memperhatikan kedua mataku. Mata yang sangat indah, dan selalu memperhatikanku selama ini.
Mata lelaki yang sangat mencintaiku, tetapi aku malah menerima cinta lelaki lain yang tidak tulus padaku.

            Aku kembali menangis.
Tangisan yang penuh penyesalan dan kesedihan yang luar biasa.
Aku tidak bisa memikirkan apapun lagi selain senyuman Wahyu yang selalu memberiku semangat dan setia kepadaku.

            “Aku lebih baik buta! Aku tidak ingin melihat! Aku hanya ingin lelaki yang tulus seperti Wahyu!”
Tetapi kenyataan tidak akan berubah.

            Kini mungkin aku kembali bisa melihat, tetapi nyatanya hatiku sudah menjadi buta akan cinta yang tulus yang diberikan Wahyu kepadaku.
Aku telah menyia-nyiakan cinta yang sangat tulus.
Kini yang tersisa hanyalah kenangan indah kita berdua.

            Tetapi aku berjanji, aku akan selalu menjaga matamu dan menjaga cintaku, hanya untuk dirimu, Wahyu.

END

Silahkan berlangganan agar dapat update tentang blog ini dari email anda:

Jangan lupa lakukan Konfirmasi melalui link Aktivasi yang kami kirimkan ke email Anda!

0 Response to "Cerpen: Buka Mata Buka Hati"

Posting Komentar

Berkomentarlah sesuai artikel, agar komentar kami terbitkan. Dan komentar yang mengandung url atau unsur promosi akan di hapus.
Terima kasih ^_^