Muaz Story – Hantu Cantik Yang Misterius (Part 5)



Judul Cerbung : Muaz Story – Hantu Cantik Yang Misterius
Tokoh Utama : Muaz & Larin
Genre : Horor, Misteri


Part 5 – Pertemuan Dengan Dinda

                “Muazz.. Banguun..”
Pagi ini aku merasa ada yang menggoncang-goncangkan badanku. Padahal aku masih sedikit mengantuk dan masih ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama guling kesayanganku.
Aku coba untuk perlahan membuka mataku, dan ternyata tepat di depan mataku, Larin sedang memperhatikanku. Aku spontan terkejut dan langsung saja bangun dan terduduk di tempat tidur.
Jantungku sedikit berbedar-debar melihat Larin yang posisi wajahnya sangat dekat melihatku yang lagi tidur. Walaupun dia hanya seorang hantu, tetapi dia tetaplah seorang wanita yang sangat cantik.

            “Ad.. Ada apa Larin?” sahutku dengan sedikit terbata-bata.
“Coba kamu lihat, sekarang jam berapa?” tanya Larin kepadaku.
Kucoba untuk melihat jam kecil yang ada di meja samping tempat tidurku, dan jam tersebut menunjukkan jarum yang berada di angka 09:40.
“Iyaiya, aku tau kok sekarang jam berapa.” Jawabku.
“Terus kamu lupa ya? Kamu hari ini kan ada janji buat ketemuan sama Dinda!” kata Larin sambil sedikit manyun.
            Astaga! Aku benar-benar tidak ingat! Padahal baru tadi malam aku Chattingan dan janjian dengan Dinda untuk bertemu di Taman dekat sekolahnya, di bangku panjang dibawah Pohon Besar.
Aduuuh! Kenapa sih penyakit pelupa ku ini dari dulu selalu saja kumat-kumatan. Bener-bener buat susah aja!
Kalau cuma lupa sama Mantan doang sih gak masalah, tapi kalau lupa masalah penting begini kan bisa berabe!

            Aku langsung turun dari tempat tidurku dan berlari menuju kamar mandi. Selesai mandi dan berpakaian, kulihat jam sudah menunjukkan pukul 10:00.
Sial! Aku langsung saja memanggil Larin untuk segera pergi ke Taman. Aku turun dari kamarku yang berada di lantai 2, kulihat ayahku yang sedang ngopi di meja makan, dan ibuku yang menyiapkan roti isi selai.
            “Yah.. Bu.. Aku pergi dulu yaa.” Kataku selagi mengambil Roti di atas meja dan bergegas sambil memakannya.
“Loh, mau pergi kemana kamu pagi-pagi begini?” tanya ibuku.
“Anu bu, aku ada janji sama temen buat ketemuan, soalnya ada tugas penting. Dan sekarang aku sudah terlambat.” Jawabku.
“Kalau begitu hati-hati dijalan ya nak.” Kata ibuku.
Sedangkan ayahku masih santai menikmati kopinya. Mungkin ayahku tidak terlalu khawatir kalau anak laki-laki sepertiku keluar atau pergi kemanapun.

            Kali ini kuputuskan untuk pergi menggunakan motor, karena lokasi tempat kami bertemu cukup jauh dari rumahku. Sekitar perjalanan 15 menit, belum lagi kalau macet.
Aku pergi dengan mengendarai motor kesayanganku, yang bermerek Scorpio.
Sesampai di taman, aku dan Larin pergi ke tempat parkir dulu. Dan setelah itu kami langsung pergi ke Kursi Panjang yang berada di bawah Pohon Besar.
Aku segera bergegas pergi, dan setiba disana sudah kulihat ada seorang wanita cantik yang duduk di bangku tersebut. Sendirian, menunggu kedatangan seseorang.
Aku pun langsung mendatanginya.

            “Hai Dinda.” Sapaku yang baru datang dan berdiri di samping kursi tempat ia duduk.
Dinda tidak menyahut sapaanku. Dia hanya mengangkat kepalanya dan melihatku yang masih berdiri. Lalu ia tunduk kembali.
Perlahan, kulihat ada air yang menetes dari wajahnya yang tertunduk. Dan kudengar suara tangisan kecil. Ternyata si Dinda tiba-tiba saja nangis.
Aku pun langsung kaget, apa sebenarnya yang terjadi. Padahal sekarang masih jam 10:15, yang berarti aku hanya terlambat 15 menit. Tapi kenapa ia menangis?
Biasanya juga cewek kalau ketemuan pasti lebih telat lagi. Mereka dandan aja bisa-bisa sampai 2 jam lamanya. Masa iya sih, Dinda nangis karna aku telat 15 Menit doang?
            Aku yang paling gak bisa melihat wanita menangis langsung duduk di samping Dinda. Larin juga ikut merasa kasihan dan bingung, lalu duduk disampingku.
Dinda lalu mengangkat kembali kepalanya, dan menghapus air matanya yang sudah membasahi pipinya.
“Apa yang terjadi? Mengapa kamu menangis?” tanyaku pelan.
“Aku teringat pada Larin, sahabatku..” Dinda masih sedikit terisak karena tangisannya.
“Aku rindu dengan Larin.. Aku gak percaya dia pergi dengan cara yang begitu mengerikan..” sambungnya.

            Aku tersentak, apa maksud Dinda mengatakan kalau Larin pergi dengan cara yang mengerikan?
Apakah dia tau bagaimana Larin mati?
            “Apa maksudmu Dinda? Memangnya, bagaimana Larin meninggal?” tanyaku penasaran.
“Apa kamu tidak tau? Larin meninggal karena gantung diri di kamarnya. Aku sungguh tidak percaya Larin melakukan hal tersebut.” Dinda kembali tertunduk dan menangis.
Gila, aku bener-bener gak percaya ini. Ternyata kematian Larin itu karena kesalahannya sendiri. Dia mati karena bunuh diri.
            Perlahan kulihat Larin yang ada di sampingku, ternyata ia juga tidak percaya dengan apa yang telah terjadi pada dirinya sendiri.
Kulihat Larin sangat ketakutan dan sangat tidak percaya kalau dia mati bunuh diri. Larin langsung menangis dan tertunduk. Sama seperti Dinda.
Sekarang aku serasa berada di dalam adegan Sinetron, karena aku berada di tengah-tengah wanita yang sedang menangis.
Tapi hatiku juga ikut terpukul mendengar kabar kematian Larin, dan mengetahui bagaimana perasaan Larin sekarang.

            “Tenanglah Dinda, aku butuh beberapa cerita darimu mengenai Larin. Aku juga ingin Larin tenang di Alamnya.” Kataku sembari menenangkan Dinda.
Dinda berheti menangis dan bertanya, “Apa sebenarnya yang kamu inginkan? Untuk apa kamu menyuruhku kemari?”
“Sebenarnya aku ingin bertanya bagaimana Larin bisa melakukan hal seburuk itu. Apakah dia punya masalah yang sangat besar?” tanyaku.
“Sebenarnya Larin memang memiliki masalah yang sangat besar, tapi dia tidak ingin menceritakannya kepada orang lain, bahkan tidak kepada orang tuanya sendiri. Hanya aku yang mengetahui masalah itu, dan Larin memintaku berjanji untuk tidak menceritakannya kepada orang lain, terutama orang tuanya. Karena dia tidak ingin membuat orang tuanya sedih dan khawatir.”
“Memangnya, Larin mempunyai masalah apa?” tanyaku penasaran.
“Larin, dia di sekolah sering kali di Bully oleh beberapa wanita di kelasnya. Mereka iri dengan kepintaran dan kecantikan Larin. Setelah istirahat atau pulang sekolah, Larin juga sering dihina, dijelek-jelekkan, bahkan dikerjain habis-habisan. Aku yang mengetahui perlakuan mereka terhadap Larin tentu saja tidak tinggal diam. Aku sudah berusaha untuk menghentikan tindakan kejam mereka, tapi mereka malah mengunciku di kamar mandi. Sudah berulang kali aku katakan pada Larin untuk melaporkannya kepada pihak Sekolah atau pada Orang Tuanya, tetapi Larin selalu menolak. Dia juga mengatakan padaku untuk tidak memberitahukan siapapun demi persahabatan kami.” Tak terasa air mata Dinda terus menetes sembari bercerita panjang kepadaku.

            Sekarang aku mengerti permasalahannya. Ternyata Larin meninggal bunuh diri dengan keadaannya yang Depresi. Aku sungguh merasa sangat kasihan kepada Larin.
Sekarang kulihat Larin yang berada di sampingku tertunduk diam. Sepertinya dia sudah tidak tahan lagi mendengar kebenaran tentang kematiannya yang sangat tidak wajar.
Aku sungguh tidak tahan dengan keadaan ini. Aku bisa merasakan kesedihan yang mendalam di hati Larin. Pantas saja ia terus menangis pada saat pertama kali kutemui.
            “Dinda..” aku berkata dengan pelan untuk menenangkan Dinda yang masih menangis.
“Iya..” Dinda kembali mengusap air matanya yang mengalir, dan berusaha untuk menenangkan dirinya.
“Aku perlu bantuanmu, ini untuk sahabatmu Larin.” Kataku.
“Kamu butuh bantuan apa?”
“Aku ingin kamu menenaniku kerumah Larin, dan menceritakan semuanya kepada Orang Tua Larin. Aku yakin, sampai saat ini orang tuanya pun masih merasa sangat sedih dan terpukul karena kepergian Larin dengan cara yang begitu mengerikan.”
“Baiklah.” Jawab Dinda singkat.
“Aku juga sebenarnya sudah lama ingin mengatakan kebenaran pada orang tua Larin. Tapi aku masih tidak berani dan merasa sangat bersalah.” Kata Dinda.
“Sudahlah, mari kita akhiri semua penderitaan Larin sekarang. Tapi pertama-tama perkenalkan, Aku Muaz.” Kataku sambil mengulurkan tangan.
“Aku Dinda, salam kenal.”

            Kami pun berkenalan dan membuat janji untuk pergi bersama ke rumah Larin. Dinda akan menemaniku kesana, dan kami akan menceritakan semua kebenaran yang menyebabkan Larin bunuh diri.
Dinda memutuskan untuk pulang, dan mengatakan untuk bertemu lagi di tempat ini. Kami saling bertukar nomor hp untuk lebih mudah berhubungan.
Dinda segera pergi, dan sekarang hanya ada aku dan Larin berdua di bangku taman ini.
            Kulihat wajah Larin yang masih saja menyimpan berjuta rasa Takut dan Rasa Sedih yang sangat mendalam.
Aku sungguh merasa kasihan dengan Larin. Wanita cantik dan pintar ini harus mati secara tragis hanya karena kasus Bullying.
            “Tenanglah Larin, aku berjanji akan menyelesaikan permasalahanmu. Kita akan berikan hukuman yang setimpal untuk orang-orang yang telah menghancurkan hidupmu.” Kataku memberi semangat.
Larin hanya terdiam dan membisu. Aku mencoba untuk memegang telapak tangan Larin yang sangat dingin.
Aku tahu apa yang ia rasakan sekarang.
“Percayalah Larin, aku akan selalu menemanimu sampai kamu bisa tenang dan pergi ke tempat yang lebih baik.” Kataku.
Larin tetap tidak berkata apapun, tetapi setidaknya aku tahu sekarang ia bisa sedikit meredakan kesedihannya. Ia melihat wajahku dan sedikit tersenyum, lalu ia menyenderkan kepalanya di bahuku.

Bersambung...


Baca cerita selanjutnya: Muaz Story – Hantu Cantik Yang Misterius (Part 6)

Silahkan berlangganan agar dapat update tentang blog ini dari email anda:

Jangan lupa lakukan Konfirmasi melalui link Aktivasi yang kami kirimkan ke email Anda!

0 Response to "Muaz Story – Hantu Cantik Yang Misterius (Part 5)"

Post a Comment

Berkomentarlah sesuai artikel, agar komentar kami terbitkan. Dan komentar yang mengandung url atau unsur promosi akan di hapus.
Terima kasih ^_^