Cerpen: Cinta Menjadikanku Lebih Baik



Judul Cerpen: Cinta Menjadikanku Lebih Baik
Karya: Muhammad Mu'az
Kategori: Cinta, Sedih

Matahari pagi telah terbit. Ayam telah berkukuk membangunkanku untuk segera bangkit dari tempat tidur yang nyaman ini. Ya, walaupun aku masih mengantuk, aku harus segera bangun dan mandi. Karena kalau tidak aku bisa terlambat ke sekolah nanti. Apalagi hari ini ada guru killer yang masuk dipelajaran pertama. Yang berarti aku gak boleh terlambat, harus cepat pokoknya.

Oh iya, perkenalkan. Namaku Nisa, aku sekarang bersekolah di SMA Negeri 1 Perbaungan. Aku sekarang duduk di bangku kelas 12. Ya, masa-masa indahku ini sebentar lagi akan berakhir, dan akhirnya aku akan berpisah dengan teman-temanku di SMA.

Seusai mandi aku langsung berpakaian. Selagi memakai dasi, kulihat ke arah jam yang menunjukkan sudah pukul 07.00.
Astaga! aku harus lebih cepat, kalau gak bisa telat sampai ke sekolah. Dan itu artinya aku bakal dihukum sama guru killer yang mengerikan itu.
Gak! Aku gak mau dihukum! Aku harus cepat. Aku harus segera bergegas pergi ke sekolah.

Setelah selesai, aku langsung turun dari kamarku yang berada di lantai 2 dan langsung menuju meja makan. Kulihat papa dan mama yang telah menungguku untuk makan bersama.
“Selamat pagi Pa! Ma!” teriakku yang baru turun dari tangga, dan langsung mengambil roti di meja dan memakannya dengan cepat.
“Kamu ini, kalau makan itu duduk dulu dong.” Kata mama heran melihatku yang makan roti terburu-buru tanpa duduk terlebih dahulu.
“Maaf ya ma, soalnya aku buru-buru banget nih. Sekarang udah hampir setengah delapan. Kalau gak buru-buru nanti aku bakal terlambat. Dan dihukum sama guru killer.”
“Iya, tapi kalau sarapan itu harus duduk dulu Nisa. Lagian salah kamu juga, kenapa selalu bangun kesiangan melulu. Gak malu apa sama ayam yang bangunnya lebih awal dari pada kamu. Padahal ayam gak sekolah lo.” Kata mama sambil sedikit tercengir mengejek diriku yang suka telat. Yang kalah bangunnya sama ayam. Emangnya aku spesies ayam?
“Iya, kamu kenapa bangunnya telat mulu. Emangnya gak buat alarm?” kata papa sambil menikmati kopi hangatnya.
“Udah loh pa, tapi entah kenapa tuh alarm gak mempan buat Nisa. Papa ada ide gak selain buat alarm, biar Nisa bisa bangun lebih pagi?” kataku sambil melihat ke arah papa.
“Ada nih! Gimana kalau kamu pasang alarm juga, tapi kali ini pakai nada dering yang beda.”
“Emang pake nada dering apa pa biar mempan sama Nisa?” tanyaku heran.
“Coba pasang nada dering alarmnya itu pakai lagu potong bebek angsa, pasti mempan buat kamu Nis.” Kata papa yang emang suka banget bercanda. Selain suka bercanda, papa juga masih suka lihat film Spongebob. Walaupun umurnya udah lumayan tua. Ya setidaknya papa gak suka lihat sinetron cinta-cintaan juga deh.
“Yaampun pa, gak sekalian aja pakai lagu opening film Spongebob atau Upin Ipin, biar langsung sampe ke otak Nisa musiknya.” Jawabku yang sedikit kesel mendengar jawaban papa. Padahal tadi juga aku udah serius nanyak, eh malah dijawab ngeyel.

Setelah selesai memakan roti dan berpamitan dengan kedua orang tua. Aku langsung berangkat ke sekolah naik Mobil Avanza warna silver, aku juga gak tau sih itu merek Mobil Avanza apaan. Aku duduk di kursi belakang, mobil tersebut di supir oleh Kang Dana. Supir yang udah lama kerja dengan keluargaku.
“Telat lagi ya neng?” tanya Kang Dana dengan nada yang biasa. Ya, biasa udah tau kalau aku emang sering telat.
“Iya kang. Kayak akang gak tau aja kalau Nisa sering telat gini.”
“hehehe, iya sih neng. Mangkanya neng, kalau mau bangun pagi-pagi itu malamnya jangan lupa baca doa sebelum tidur.” Cerewet kang dana seperti biasa. Emang iya, Kang Dana orangnya lumayan Alim.
“Iya deh kang. Yaudah, lebih cepat lagi ya kang nyetir mobilnya. Soalnya aku hari ini gak boleh telat nih.” Jawabku dengan sedikit rasa takut.
“Bukannya emang udah telat ya neng?” tanya Kang Dana sambil nyengir dikit.
“Iya deh kang.” Jawabku dengan ekspresi suntuk. “Yaudah pokoknya buruan kang.”
“Oke neng siap. Eneng tau kan kalau Kang Dana ini bekas pembalap kelas kampung?” kata Kang Dana sambil nyengir. Kang Dana mah emang gitu orangnya, padahal pas ikut kejuaraan balap di kampungnya, dia juga cuma jadi pemegang benderanya doang.
“Yaudah buruan cepat kang.”
“Oke neng, kita lets go!”

Mobil yang disetir Kang Dana mulai melaju lebih cepat. Setelah beberapa menit kemudian, aku akhirnya sampai di depan gerbang sekolah. Dan aku langsung saja menerobos masuk karena khawatir si guru killer udah masuk ke kelas.
Entah keajaiban apa yang terjadi hari ini. Si guru killer gak masuk. Kata Tia, temen sebangku ku, si guru killer lagi sibuk ngurusin kerjaan lain. Yang penting hari ini aku terselamatkan dari hukuman si guru killer.

Tetapi walaupun begitu, tetap aja si guru killer nyuruh kami buat nulis catatan yang panjang banget. Ya tambah males deh kalau gini terus. Datang gak datang mah sama aja si guru killer selalu buat kami gak tenang, pikirku.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 13:30, ini waktunya bell pulang berbunyi.
“Hei Nis, pulang ini kamu ada acara gak?” kata Tia kepadaku sambil berjalan keluar dari pintu kelas.
“Gak sih, emang kenapa Tia?” jawabku lirih.
“Hari ini aku bete, gara-gara nulis catatan yang panjangnya kayak buku Herry Potter tadi. Kamu mau gak temeni aku lihat pacarku nge-band di studio dekat lapangan itu?” tanya Tia sambil tersenyum di hadapanku.
“Aku sih mau aja, tapi nanti kalau kamu berduaan sama pacarmu, aku bakalan jadi obat nyamuk lah.” Jawabku dengan nada malas.
“Gak deh Nis! Kan ada temen-temen band nya yang bisa nemeni kamu. Oh iya, ada temen cowok aku, orangnya ganteng Nis. Namanya Sidik, selain jago main gitar, dia juga lumayan pintar dan alim loh Nis. Kurang apalagi coba?”
“Iyaiya deh. Kali ini aku mau ikut.” Jawabku singkat.
“Asik..! Yaudah ayuk kita berangkat sekarang Nis!” kata Tia bersemangat.
Yaiyalah, siapa juga sih yang gak semangat kalau mau jumpa pacar sendiri. Kecuali kalau orangnya emang jomblo, kayak aku.
“Yaudah bentar. Aku bilang ke Kang Dana dulu suruh pulang duluan sekalian suruh bilang sama mama ku kalau aku mau pergi sama kamu.”

Setelah itu kami berdua langsung berangkat naik motor matic milik Tia. Cukup gugup sih, soalnya ini baru pertama kalinya aku mau ketemuan sama anak-anak band. Apalagi kata Tia, ada cowok yang ganteng dan perpect. Yaampun, gimana ya kalau nanti aku gak bisa ngomong sama sekali gara-gara grogi, pikirku.

Motor Tia berhenti di depan sebuah studio.
“Udah sampe nih Nis. Yaudah ayuk kita masuk.” Kata Tia setelah memarkirkan motornya.
“Yaudah yuk.”
Kami mulai memasuki studio. Dan dalam 1 ruangan band, ada sebuah band yang masih bermain. Karena tadi pacar Tia udah pesan kalau udah sampe langsung masuk aja. Ya jadi kami berdua langsung masuk buat ngeliat mereka latihan.
Setelah beberapa menit kami menunggu mereka selesai latihan dengan duduk di kursi yang dekat dengan panggung. Akhirnya mereka selesai, dan vokalis band tersebut yang juga pacarnya Tia mendatangi kami berdua.
“Hai sayang, maaf ya udah nunggu lama.” Kata Rio, pacar Tia
“Iya gpp sayang. Ini temen aku, yang namanya Nisa. Kamu masih ingatkan?” kata Tia sambil melihat ke arahku. Memang, aku sudah kenal dengan cowoknya. Ya walau kami jarang bertemu.
“Oh iya, ya masih ingat lah sayang.” Kata Rio sambil senyum ke arahku. “Oh iya, woy temen-temen. Nih kenalin temen pacar gue.” Teriak Rio kepada teman-teman 1 band-nya
Semua teman Rio berkenalan denganku, dan benar kata Tia. Ada 1 cowok ganteng, namanya Sidik. Waktu bersalaman dengannya saja aku sudah langsung jatuh cinta.

Setelah perkenalan dengan teman-teman Rio. Aku dan Tia sedikit mengobrol dengan cowok dan teman-teman band nya. Dan kukira sidik adalah cowok yang suka bicara, ternyata salah. Ia lebih banyak diam dan mendengarkan dari pada berkomentar.
Setelah beberapa puluh menit kami duduk dan mengobrol. Aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Karena hari juga sudah semakin sore.
“Yaudah sayang, aku sama Nisa pulang dulu ya. Kamu nanti pulang sama temen-temen kamu kan?” tanya Tia kepada Rio.
“Iya sayang, yaudah kamu pulang duluan aja. Udah sore banget soalnya. Hati-hati ya sayang.” Jawab Rio.

Setelah berpamitan juga dengan teman-temannya, terutama Sidik. Aku dan Tia langsung pulang. Sampai di rumah, aku langsung mandi dan makan.
Setelah hari sudah malam, aku masih penasaran dengan cowok yang namanya Sidik itu. Aku mencoba bertanya nomor hp-nya sama Tia. Sebenarnya Tia juga gak punya nomor Sidik, tapi dia coba minta sama Rio. Dan akhirnya aku pun mendapatkan nomor Sidik.

            Setelah mendapatkan nomornya, aku coba buat kirim sms.
“Hai Sidik.” Sms ku singkat. Sebenarnya malu sih karena aku kan cewek, masa sms duluan. Tapi ya mau gimana lagi. Tak lama ada sms masuk, aku langsung membaca sms-nya.
“Iya, ini siapa?” tanya Sidik singkat.
“Ini Nisa, kamu masih ingat gak? Yang tadi kenalan di studio.” Jawabku berharap Sidik masih ingat denganku.
“Oh, iyaiya. Aku masih ingat kok. Kamu temennya Tia kan?” balas sidik.
“Iya.” Jawabku singkat dengan sedikit perasaan gugup.
“Kamu ada apa sms aku Nis?” tanyak Sidik dalam balasan smsnya. Aku langsung bingung mau jawab apa. Nah, aku coba cari alasan klasik aja deh, pikirku.
“Gpp Dik, cuma pengen lebih kenal aja sama kamu. Boleh kan kita temenan?” tanyaku
“Iya boleh dong. Mulai sekarang kita temenan ya.” Balas Sidik.
“Wah, oke Dik. Makasih ya!” Jawabku dengan perasaan senang. Sepertinya kesan pertama perkenalan kami berdua sangat lancar.
Mulai dari perkenalan itulah aku dan Sidik semakin dekat dan akrab. Kami mulai sering juga Telponan. Kadang aku juga suka curhat sama Sidik. Entah kenapa dia enak banget dijadiin temen curhat. Karena selain pengertian, Sidik juga bisa kasih aku solusi dari semua masalahku.

Dan setelah sekian lama kami tidak berjumpa lagi. Sidik mengajak aku untuk pergi ke Pasar Malam. aku senang sekali, dan langsung meng-iyakan ajakan Sidik tersebut.
Di malam kami akan pergi berdua, Sidik sudah datang lebih awal ke rumahku dengan Motor Vario yang biasa ia kendarai. Aku langsung mengajak Sidik untuk masuk ke rumah ku.
“Pa, Ma, kenalin. Ini teman aku, namanya Sidik. Dia anak Band, dan dia juga kelas 12 di SMK Negeri 1 Perbaungan.” Kuperkenalkan Sidik kepada kedua orang tuaku.
“Malam om, salam kenal saya Sidik.” Jawab Sidik sambil menyalami kedua orang tuaku.
“Boleh saya ajak putrinya om, buat jalan-jalan ke pasar malam?” tanya Sidik ke papa.
“Oh, iya nak. Boleh, asalkan jangan pulang lewat dari jam 10 malam. Dan nanti setelah habis dari pasar malam langsung antar Nisa pulang ya.” Jawab papa.
“Iya om, pasti langsung saya antar pulang. Saya izin pergi dulu ya om, tante.”
“Aku juga pamit ya ma, pa.”
“Iya, kamu hati-hati ya Nis.” Kata mama

Setelah berpamitan. Kami langsung pergi berdua ke pasar malam. Jujur, aku gugup banget. Walaupun sudah cukup akrab, tetapi baru kali ini aku dibonceng sama Sidik. Aku malam ini emang agak sedikit berdandan. Karena kupikir malam ini adalah malam yang spesial, dan harus memiliki kesan yang spesial juga.
Sesampai di pasar malam, Sidik memarkirkan motornya.
“Nis, udah sampe nih. Kita mau naik apaan dulu.” Tanya Sidik dengan senyuman kepadaku.
“Gimana kalau kita naik baling-baling dulu. Kamu gak bakal muntah kan?” tanyaku dengan senyuman kecil kepada Sidik.
“Ya gak lah, masa cuma naik baling-baling aja aku sampe muntah. Hehehe.” Jawab Sidik sambil tertawa kecil.
“Yaudah, ayuk kita naik baling-baling!” teriakku senang.

Kami langsung bergegas untuk menuju loket dan membeli 2 tiket baling-baling. Saat menaiki baling-baling, bagiku adalah momen yang sangat istimewa, karena aku duduk berhadapan dengan Sidik. Dia hanya tersenyum melihatku, dan akupun membalas senyuman Sidik. Setelah turun dari baling-baling dan mencoba beberapa permainan yang lain, kami pun berjalan-jalan keliling pasar malam. Dan Sidik membelikan aku Popcorn.
Setelah itu, kami memutuskan untuk pulang. Tetapi sebelum ke rumahku, kami duduk sebentar di Tugu Bintang yang ada di Kota Perbaungan. Kami duduk berdua sambil memakan Popcorn. Lalu Sidik bertanya.
“Oh iya Nis. Setelah tamat SMA ini kamu mau lanjut ke kuliah mana?” tanya Sidik padaku.
“Wah, aku juga belum tau Dik. Belum kepikiran soalnya. Padahal udah mau tamat ya.” Jawabku.
“Iya, kamu harus tau dong. Kan sebentar lagi kita bakalan UN. Dan lulus. Setelah itu bakal tamat deh dari SMA.” Kata Sidik.
“Iya sih, kalau kamu mau ke mana setelah tamat SMK Dik?” tanyaku kepada Sidik.
“Kalau aku sih pengen masuk ke Universitas Negeri Medan Nis.” Jawab Sidik.
“Wah, itu kan Universitas dambaan ya Dik. Kalau harus masuk juga pasti ujiannya susah banget.”
“Iya Nis. Dari kelas 2 SMK, aku emang udah punya tujuan dan niat kuat buat masuk ke universitas itu. Mangkanya aku harus belajar serius.” Kata sidik. “Gimana kalau kamu juga ikutan masuk universitas itu juga Nis?” Tanya Sidik.
“Wah, gimana ya Dik. Semua pelajar pasti mau masuk ke universitas impian itu. Tapi kalau orang kayak aku pasti susah banget. Nilai aku aja pas-pasan Dik. Gimana nanti mau lulus ujiannya coba?” kataku dengan sedikit serius kepada Sidik.
“Gak usah khawatir. Kalau kamu emang niat. Pasti bakal lulus kok. Yang penting kamu harus tingkatin ilmu kamu. Harus lebih sering belajar Nis.” Sambil menatap kedua mataku, Sidik mencoba untuk meyakinkanku.
“Iya deh Dik, nanti aku pikir-pikir lagi ya.” Kataku lirih.
“Yaudah, yuk kita pulang.” Kata sidik tersenyum.
“Ayuk dik.” Akupun membalas senyuman sidik.

Itu adalah malam pertemuan pertama kami. Dan mungkin aku bakal jarang lagi untuk bisa ketemuan dengan Sidik. Karena sebentar lagi Ujian Nasional tingkat SMA akan dilaksanakan. Aku dan Sidik berjanji untuk sama-sama belajar serius, agar bisa lulus Ujian Nasional. Aku yang biasanya hanya belajar 3 minggu sekali. Kali ini aku belajar di setiap malam, dan setiap kesempatan aku pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku materi UN.

Sidik terus memberikan semangat untukku. Agar aku bisa mendapatkan nilai yang baik saat lulus nanti. Aku juga menyemangati Sidik. Walaupun aku dan Sidik sudah jarang bertemu, dan hanya berhubungan lewat sms dan telpon, tetapi kami semakin akrab.

Minggu ini Ujian Nasional berlangsung. Aku merasa sudah siap untuk menghadapi ujian ini. Berdoa dan serius dalam mengejakan soal.
Dan tak terasa, akhirnya ujian nasional telah selesai. Selama ujian nasional, aku benar-benar serius. Sampai tidak sempat untuk sms-an atau telponan lagi dengan Sidik.

Tiba hari dimana aku akan mengambil surat kelulusan. Aku sangat deg-degan. Aku berharap Aku lulus. Aku gak mau mengecewakan kedua orang tuaku, dan juga Sidik. Orang yang telah memberikan Aku semangat hingga saat ini.
“Nisa.” Teriak Buk Erni, guru wali kelas kami.
“Iya buk.” Jawabku dengan nada yang agak gemeteran karena menunggu hasil ujian.
“Selamat ya! Ibu gak nyangka, ternyata kamu Lulus dengan nilai yang lumayan tinggi.” Kata Buk Erni dengan senyuman bangga.
Alhamdulillah! Akhirnya Aku berhasil! Aku berhasil Dik! Semua ini juga berkat semangat dari kamu. Ujarku dalam hati
Aku segera mendatangi meja guru dan mengambil surat kelulusan yang diberikan oleh Buk Erni. Aku dan Tia sama-sama lulus pada hari itu. Ya walaupun Tia lulus dengan nilai yang masih dibawahku tingginya.

Seusai pulang dari sekolah, aku langsung memberitahukan kelulusanku kepada mama dan papa. Tentu saja mereka berdua sangat senang, dan memelukku erat.
Setelah masuk ke kamar. Aku langsung menelpon Sidik.
“Halo Sidik!” kataku dengan penuh semangat.
“Iya Nisa. Gimana, kamu pasti lulus kan?” tanya Sidik.
“Iya Dik! Aku lulus! Dan bukan hanya itu. Aku juga dapat nilai yang tinggi Dik!” jawabku dengan perasaan yang sangat senang dan bercampur rasa haru yang membuatku ingin menangis.
“Alhamdulillah. Aku percaya kamu pasti bisa Nis. Selamat ya! Aku ikutan senang banget.”
“Iya Dik. Kalau kamu gimana? Pasti lulus juga kan Dik?” tanyaku penasaran.
“Iya Nis. Aku juga lulus dengan nilai yang tinggi. Usaha kita gak sia-sia kan Nis. Hehehe” Jawab Sidik dengan tertawa kecilnya.
“Hehehe, iya Dik. Makasih ya, kamu selama ini udah buat aku yakin dan semangat. Makasiih banget Dik.”
“Iya Nis. Semua juga berkat doa dan usaha kamu kok.”
“Aku juga udah mutusin Dik. Nanti aku bakal lanjut ke Universitas Negeri Medan. Semoga Aku lulus dan kita bisa 1 universitas ya Dik.” Kataku dengan penuh harap.
“Iya Nis. Aku bakal doain Kamu selalu. Kamu belajar yang rajin ya buat ujian masuk universitas nanti.”
“Iya Dik. Kamu juga loh.”
“Oke Nis!” jawab Sidik dengan semangat.

Semenjak saat itu, hari terus berlalu. Aku semakin mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian masuk Universitas impianku dan Sidik. Aku terus belajar dan belajar. Karena aku berpikir, jika aku bisa masuk ke universitas itu, pasti kedua orang tuaku akan bangga. Dan aku juga bakal bisa selalu bertemu dengan Sidik. Ya, walaupun sampai sekarang kami belum memiliki status pacaran. Tetapi aku yakin, Sidik juga pasti punya rasa cinta untukku yang belum di ungkapkannya.

Dan akhirnya hari ini ujian untuk masuk universitas akan diadakan. Ujian dilakukan secara Online dengan komputer.
Dan Sidik datang menjemputku untuk mengikuti ujian bersama di Universitas. Kami langsung berangkat. Setelah sampai, aku dan Sidik saling berdoa agar kami Lulus.
Setelah itu kami pun langsung memasuki ruang ujian yang terpisah.

Setelah beberapa jam kemudian, akhirnya ujian telah usai. Aku keluar dari ruang ujian dan kulihat Sidik telah menungguku dan langsung bertanya.
“Gimana ujiannya Nis. Susah gak?” tanya Sidik dengan senyum di wajahnya.
“Lumayan lah Dik. Tapi Alhamdulillah tadi lumayan lancar aku jawabnya Dik.” Kataku dengan senyum kepada Sidik.
“Alhamdulillah kalau gitu. Aku juga tadi lancar-lancar aja Nis. Sekarang tinggal nunggu hasil ujiannya. Semoga kita lulus ya Nis!” kata Sidik semangat.
“Iya! Kita harus lulus Dik! Hehehe.” Jawabku dengan penuh semangat dan tawa.

Setelah berhari-hari kami menunggu hasil ujian. Akhirnya telah keluar juga. Hasil kelulusan masuk universitas ditampilkan Online. Aku segera membuka laptop dan mengecek situs pengumumannya.
Dan Alhamdulillah! Aku lulus! Aku benar-benar Lulus!
Antara gak percaya dan gak nyangka, aku ternyata lulus!
Aku langsung mencari mama dan mengatakan kalau aku lulus. Mama langsung menangis haru dan memeluk diriku. Aku benar-benar senang.

Semua ini berkat semangat dari Sidik. Aku segera menelpon Sidik.
“Halo Dik!” teriakku
“Iya Nisa?” jawab Sidik.
“Aku lulus Dik! Aku bener gak percaya! Aku lulus!” teriakku semangat.
“Alhamdulillah! Aku tau kamu pasti berhasil Nis. Itu tandanya kita akan 1 universitas sekarang. Hehehe.” Jawab sidik dengan sedikit tertawa senang.
“Wah, kamu juga lulus ya Dik!?” tanyaku sigap.
“Iya dong, emangnya kamu doang yang bisa lulus. Aku juga bisa tau! Hehehe.” Jawab Sidik dengan tertawa.
“Alhamdulillah! Aku senang banget Dik! Sekarang kita akhirnya bisa ketemu setiap hari. Karena kita bakal 1 universitas. Hehehe.” Kataku senang.
“Iya Nis, aku juga senang banget! Gimana kalau besok kita janjian di kafe. Kita rayain kelulusan kita ini Nis! Sekalian ada yang mau aku omongin ke kamu.” Ajak Sidik.
“Boleh boleh Dik!” jawabku penuh semangat.
“Yaudah. Besok aku jemput kamu ya. Jangan lupa dandan yang cantik. Karena besok hari spesial kita berdua!” kata sidik dengan nada sedikit menggoda.
“Iyaiya, sampai jumpa besok ya Dik!”


Hari ini aku harus dandan yang cantik. Aku bersiap-siap, setelah mandi. Aku langsung memakai pakaian yang sebelumnya sudah aku pilih. Kulihat ada sms masuk dari Sidik. Ia sudah pergi untuk menjemputku. Untuk itulah aku sudah bersiap menunggu dia datang dengan duduk di ruang tamu. Aku duduk sambil membaca Novel karya Raditya Dika yang berjudul ‘Koala Kumal’.

Setengah jam berlalu, aku masih terus menunggu Sidik. Entah kenapa tiba-tiba muncul perasaan khawatir dalam hatiku. Aku berpikir, apakah aku harus melihat saja langsung ke kafe tempat kami janjian. Mana tau Sidik sudah ada disana.
Karena khawatir dan sudah lumayan lama menunggu, dan Sidik belum datang juga. Aku memutuskan untuk pergi sendiri ke kafe tempat kami janjian dengan naik taksi.

Setelah sampai, tidak ada Sidik sama sekali di kafe tersebut. Hanya ada beberapa orang yang sedang duduk dan makan. Aku langsung keluar dari kafe. Kucoba untuk menelpon Sidik. 1 kali gak di angkat, 2 kali juga masih belum di angkat. Dan akhirnya ketiga kali kucoba untuk menelponnya, ada suara wanita paruh baya yang mengangkat.
“Halo Dik.” Tanyaku cepat.
“Halo! Ini siapa ya?! Maaf, saya lagi dirumah sakit. Jika ada perlu, anda silahkan langsung datang ke rumah sakit Melati. Tuuut.....”
Belum sempat aku bertanya, tiba-tiba saja teleponnya sudah tertutup. Aku juga ikutan panik. Aku langsung mencari taksi dan melanjutkan perjalanan ke sebuah rumah sakit di daerah Kota Perbaungan ini.

Setelah sampai di depan pintu rumah sakit. Aku langsung saja masuk. Tadi di telpon aku tidak sempat bertanya di kamar berapakah wanita tersebut, dan apa yang terjadi dengan Sidik. Mengapa bukan ia yang mengangkat telponnya?
Dari pada terus bertanya-tanya pada hatiku sendiri. Aku mendatangi bagian admin rumah sakit dan bertanya apakah ada pasien yang bernama Sidik yang baru saja masuk dirumah sakit ini.

Suster tersebut mengatakan ada, dia mengatakan bahwa Sidik tersebut adalah pasien gawat darurat yang baru saja mengalami kecelakaan berat. Ia masih diruang UGD.
Mendengar perkataan suster tersebut, lututku langsung lemas. Badanku terasa kaku. Aku tidak sanggup menerima kenyataan ini. Aku tidak pernah berpikir akan mendengar hal seperti ini.

Air mataku mulai menetes. Aku segera mencari Sidik yang berada di ruang UGD. Aku berlari, tidak peduli dengan keadaan sekitarku. Yang ada dipikiranku sekarang hanyalah Sidik. Hanya Sidik!
Aku menemukan ruang UGD. Di depan pintu kulihat ada 2 orang yang sedang menangis. Sepertinya mereka berdua adalah orang tua Sidik. Aku langsung saja mendatangi kedua orang tua Sidik, dan bertanya kepada mereka.
“Om! Tante! Apa benar orang tua Sidik!?” tanyaku dengan perasaan yang sudah tidak karuan lagi.
“Iya nak.. kami orang tuanya Sidik.” Jawab Papa sidik dengan keadaan pasrah.
“Kamu yang tadi nelpon ke hp-nya Sidik ya nak?” tanya mama Sidik dengan air mata yang masih mengalir.
“Iya tante, sebenarnya apa yang terjadi!? Sidik gimana keadaanya!?” aku bertanya dengan mata yang semakin ingin meneteskan air mata. Dengan perasaan yang tidak karuan ini.
“Sidik tadi di tabrak sebuah mini bus dari arah belakang nak. Dia memiliki luka yang sangat serius. Tadi ketika dilarikan ke rumah sakit ia sudah sangat kritis. Dan ketika sedang di ruang UDG, dokter mengatakan ia telah menghembuskan nafas terakhirnya.” Jawab Tante tersebut dan menangis lagi sambil memeluk Papa sidik.

Sungguh, apakah ini mimpi? Tapi tidak mungkin mimpi bisa senyata ini. Aku.. Aku tidak menyangka. Sidik akan meninggalkanku di waktu yang seperti ini. Ini semua kesalahanku, jika Aku membatalkan ajakannya untuk merayakan kelulusan kami. Pasti ia tidak akan pergi meninggalkanku. Untuk selama-lamanya!
Tiba-tiba saja jantungku serasa berhenti berdetak. Kepalaku terasa berat, dan pandanganku terasa semakin kabur. Akhirnya aku merasa terjatuh dan pingsan.

Aku baru terbangun di rumah sakit ke’esokan harinya. Aku melihat kedua orang tuaku berdiri cemas di sampingku. Aku merasa kejadian kemarin bukanlah mimpi. Aku segera bangkit dan mencabut alat inpus yang ada di tanganku. Aku mengatakan kepada kedua orang tuaku bahwa aku baik-baik saja dan buru-buru pergi berlalu meninggalkan mereka. Aku langsung menelpon Tia untuk meminta alamat rumah Sidik dari Rio. Setelah mendapatkan alamatnya. Aku langsung bergegas menuju rumah Sidik dengan taksi.

Sesampai dirumahnya. Kulihat semua keluarga masih berduka. Di depan rumahnya duduk mama dan papa Sidik yang kemarin aku jumpai di rumah sakit. Aku menghampiri mereka, dan mereka berkata bahwa mayat Sidik telah di makamkan barusan. Aku diberitahu dimana letak kuburan Sidik. Setelah mengetahui letak kuburannya, aku langsung berpamitan dan pergi lagi dengan taksi menuju tempat Sidik di kuburkan.

Sampai sudah di kuburan. Aku langsung membayar taksi dan bergegas turun. Setelah itu mencari batu nisan yang bertuliskan nama Sidik. Aku mencari, dan terus mencari. Dengan perasaan yang sakit sekali. Seperti tertusuk banyak besi penderitaan.
Tak lama, aku menemukan kuburannya. kuburan yang masih basah dan ditaburi banyak bunga-bunga. Aku tidak menyangka, bahwa yang kuhadapi sekarang adalah kuburan orang yang paling Aku cintai.

Aku memegang batu nisan Sidik, dan menatap nisan yang bertulisakan nama Sidik. Aku benar-benar sedih.
Mengapa? Mengapa kamu pergi secepat ini. Kita bahkan baru lulus, dan akan belajar di satu universitas yang sama bukan?
Mengapa Dik!?

Aku terus menangis, rasanya air mataku tak terbendung lagi. Hatiku sakit. Pikiranku terus bertanya-tanya mengapa terjadi seperti ini.
Kamu yang menjadikan ku seperti sekarang ini. Kamu yang membantu dan menyemangati aku untuk bisa menjadi lebih baik lagi. Aku sangat mencintai kamu Sidik. Dan kamu bahkan belum mengatakan, kalau kamu juga mencintaiku. Mengapa sekarang kamu pergi tanpa pamit dariku Sidik!” Aku berbicara di kuburan Sidik sambil nangis terisak-isak. Aku benar-benar tidak kuat dengan keadaan ini.

Dalam hati Aku berjanji. Aku akan terus mengejar impianku dan meneruskan kuliah di universitas impianku dan juga Sidik. Aku yakin, aku pasti bisa membuat Sidik bangga kepadaku. Aku akan membawa semua impiannya dan menggabungkannya dengan impianku. Dan yang perlu kamu tau Sidik. Aku akan selalu Mencintaimu.

- END -

Silahkan berlangganan agar dapat update tentang blog ini dari email anda:

Jangan lupa lakukan Konfirmasi melalui link Aktivasi yang kami kirimkan ke email Anda!

0 Response to "Cerpen: Cinta Menjadikanku Lebih Baik"

Posting Komentar

Berkomentarlah sesuai artikel, agar komentar kami terbitkan. Dan komentar yang mengandung url atau unsur promosi akan di hapus.
Terima kasih ^_^