Cerbung: Hutan Terlarang – Part 2



“Oh Tidak!!!! Aku harus segera lari!!!”
Aku yang tersentak dan langsung memutuskan untuk lari meninggalkan temanku yang sudah habis dirobek-robek oleh makhluk mengerikan tersebut.
“Oh Sial!!! Siaaall!!!!” teriakku sambil berlari.
Aku terus berlari, berharap makhluk tersebut sudah melupakan aku.
Aku terus berlari mencari jalan keluar dari hutan ini.
Aku harus keluar!!!!


Dengan raut wajah yang sangat ketakutan, air mataku tiba-tiba saja menetes. Tapi aku harus menyelamatkan diriku dari mahkluk mengerikan itu.
Aku terus berlari, tanpa peta dan tanpa arah. Aku hanya berlari kedepan, berharap ada cahaya dan tempat perlindungan yang bisa kugunakan untuk berlindung dari mahkluk yang telah memakan temanku.

“Akhirnya!!” teriakku senang.
Aku akhirnya menemukan sebuah Rumah Pondok Kayu yang ada di dalam hutan ini. Tepat di depan mataku, sepertinya rumah kayu tersebut bisa kugunakan untuk bersembunyi dari kejaran makhluk itu.
Setelah kudekati rumah tersebut, aku heran mengapa di sekeliling rumah kayu itu ditaburi dengan kacang berwarna merah yang sangat aneh.
Tapi karena ketakutan yang sudah sangat memuncak, aku langsung saja masuk ke dalam pondok tersebut tanpa berpikir panjang lagi.

“Ah..! Syukurlah aku selamat!”
Tiba-tiba saja ketika aku baru memasuki rumah tersebut, aku berbalik dan melihat tepat 5 meter di depanku ada seorang kakek tua yang duduk di kursi dan melihatku dengan tatapan tajam.
Nyaliku langsung menciut kembali, karena penampilan kakek tersebut sangat aneh dan menyeramkan.
Di bajunya banyak sekali tumbuhan-tumbuhan aneh yang menempel, termasuk kacang merah yang kulihat diluar tadi.

“Siapa kau anak muda! Berani sekali memasuki pondokku tanpa izin!!” kakek tersebut bertanya kepadaku dengan tatapan tajamnya.
“Kumohon kek, maafkan aku. Aku tadi dikejar-kejar oleh makhluk yang mirip seperti serigala. Aku terus berlari dan menemukan pondok ini, aku mohon biarkan aku bersembunyi disini kek..!” aku berkata dengan suara yang bergetar dan penuh dengan ketakutan.
“Lalu mengapa kau berani sekali memasuki hutan terlarang ini! Apa kau tidak dengar cerita dari banyak orang mengenai hutan yang mengerikan ini hai anak muda!!” teriak kakek tersebut kepadaku.

Aku hanya bisa diam sejenak, dan menunduk takut. Lalu Kakek tersebut melanjutkan.
“Lalu apakah kau kemari hanya seorang diri?” tanyak kakek tersebut kepadaku.
“Tidak kek! aku tadi sedang berlari bersama temanku. Tapi sayangnya ia terjatuh dan dimakan oleh makhluk mengerikan itu. Aku sangat menyesal!” aku kembali meneteskan air mata.
“Apa!!” teriak kakek tersebut. “Apakah kau tau apa yang sudah kau perbuat!? Kau bukan hanya sudah membuat temanmu terbunuh, tetapi kau juga sudah membuat makhluk tersebut menjadi semakin kuat!” kata kakek tersebut.
“Maksud kakek apa?” aku bertanya dengan bingung dan takut.
“Ini malam bulan Purnama, dan makhluk tersebut akan selalu berubah. Jika ia malam ini dapat memakan seorang manusia, maka kekuatan yang ia miliki akan semakin besar! Apa kau mengerti bocah!” kata Kakek tersebut dengan nada marah.

“Astaga! Maafkan aku kek! aku benar-benar tidak tahu itu. Aku sungguh takut kek, aku terpaksa meninggalkan temanku untuk menyelamatkan diriku sendiri. Aku sungguh merasa bersalah!”
“Sudahlah! Sebaiknya tenangkan dirimu dulu nak.” Kata kakek tersebut.
Aku perlahan menenangkan diri. Dan suasana kami di dalam pondok senyap. Lalu aku terpikirkan suatu pertanyaan.

“Lalu apa yang sedang kakek lakukan disini?” tanyaku dengan sangat penasaran.
Kakek tersebut sejenak terlihat diam, dan tatapannya kosong, membuatku merasa ketakutan.
Lalu Aku mencoba mengalihkan pertanyaan, “Itu ada kacang berwarna merah yang mengelilingi pondok ini, apa gunanya kek?”
“Kacang tersebut untuk melindungi rumah ini dari makhluk yang dari tadi mengejar dirimu itu. Mungkin terdengar mustahil, tapi kacang merah ini bukan kacang biasa.” Kata kakek.
Lalu kakek tersebut melanjutkan pembicaraannya,
“Dan sebenarnya aku sudah lama hidup sendirian disini. Aku menetap disini untuk mencari anakku yang hilang beberapa tahun lalu. Mungkin ia seusiamu sekarang.” Kata kakek tersebut.
“Apakah kau sanggup Kek? Hidup di hutan terlarang ini dengan makhluk yang mengerikan tersebut?” tanyaku dengan penuh penasaran.
“Kau tidak akan mengerti nak.” Jawab singkat dari kakek tersebut.

Lalu kakek tersebut menyuruhku untuk berbaring istirahat di tempat tidur bambu yang ada di sudut kiri.
Dia berdiri di meja dan membuat sesuatu dari tanaman yang ia temukan. Lalu memberikan sebuah cangkir kecil yang berisi air berwarna abu-abu.

“Silahkan minum ramuan ini, agar tenagamu bisa pulih kembali. Lalu tidurlah sejenak selagi aku mencari cara untuk mengusir makhluk tersebut jika ia berhasil kemari.” Kata kakek tersebut.
Aku hanya mengangguk dan meminum ramuan yang diberikan oleh kakek tersebut. Walaupun ramuannya terasa sangat pahit dan aneh, aku terus meminumnya hingga habis.

Ternyata benar kata Kakek tersebut, ramuannya langsung membuat efek yang membuat diriku mengantuk dan ingin segera tertidur.
Aku mulai memejamkan mataku perlahan, yang terakhir kali kulihat adalah kakek tersebut yang sedang duduk seperti memikirkan sesuatu.
“Semoga aku bisa keluar dari Hutan Terlarang ini...”

Bersambung...


Baca Cerita Selanjutnya : Hutan Terlarang - Part 3

Silahkan berlangganan agar dapat update tentang blog ini dari email anda:

Jangan lupa lakukan Konfirmasi melalui link Aktivasi yang kami kirimkan ke email Anda!

0 Response to "Cerbung: Hutan Terlarang – Part 2"

Posting Komentar

Berkomentarlah sesuai artikel, agar komentar kami terbitkan. Dan komentar yang mengandung url atau unsur promosi akan di hapus.
Terima kasih ^_^